Penyerangan Mapolda Riau

Terduga Teroris Pernah Ungkap Akan Jual Tanah dan Berangkat ke Suriah

Dedi Iswandi · Rabu, 16 Mei 2018 - 21:22 WIB

Polisi berjaga-jaga saat penggerebekan rumah terduga teroris di Dumai, Riau, Rabu (16/5/2018). (Foto: iNews/Dedi Iswandi)

DUMAI, iNews.id – Terduga teroris jaringan Ical alias Pak Ngah (42), yang menyerang Mapolda Riau, Rabu (16/5/2018) pagi tadi, pernah mengungkapkan rencananya menjual tanah untuk berangkat ke Suriah. Pria yang sehari-hari dikenal cukup tertutup dan jarang bergaul dengan warga itu beralasan ingin berjuang bagi umat Muslim di Suriah yang tertindas.

Pernyataan Ical ini akhirnya dikait-kaitkan warga dengan penyerangan yang dilakukan kelompok terduga teroris Pak Ngah di Mapolda Riau, Rabu (16/5/2018) pagi tadi. Berita penyerangan tersebut membuat geger, terutama masyarakat yang selama ini mengenal Pak Ngah dan Adi Syofyan (26).

Menurut Kepala RT 08 Kelurahan Bukit Batren, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Gabe Nasution, pernyataan itu diungkapkan Pak Ngah saat berkumpul di rumah Adi Syofyan. Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah polisi dan tokoh masyarakat yang dibawa Gabe ke rumah Adi. Para terduga teroris ini berencana ke Suriah karena ingin berjuang bagi umat Muslim di Suriah.

“Mereka bicara di depan polisi waktu itu, mau jual tanah dan kalau laku mau ke Suriah. Kata polisi waktu itu, jangan ke Suriah lah pak. Mereka jawab, yah kita ke sanalah pak berjuang karena Muslim di sana kan ditindas,” kata Gabe Nasution kepada wartawan.

Gabe mengatakan, sehari-hari, dia mengenal keluarga Adi Syofyan bekerja membuat tempe, tahu, bakso, dan tauge. Namun, warga tidak mengetahui Adi dan Pak Ngah juga ikut pengajian. “Katanya memang orang itu ada pengajian, kepalanya katanya Pak Ngah. Itu pengakuan mereka di depan polisi. Tapi, kami nggak tahu soal Pak Ngah ini dan kami nggak kenal,” katanya.

Gabe menambahkan, sehari-hari, perilaku kelompok terduga teroris jaringan Pak Ngah dikenal sangat tertutup kepada masyarakat. Mereka jarang sekali bergaul dengan warga setempat. “Mereka kurang bersosialisi dan tertutup, di rumah aja. Saya kadang ke rumahnya. Orang itu sibuk berusaha bikin tahu dan tempe,” ujarnya.


Editor : Maria Christina

KOMENTAR