15 Siswa PKL asal Pandeglang Kabur di Timika Papua akibat Disiksa ABK di Atas Kapal

Iskandar Nasution ยท Senin, 04 November 2019 - 18:59 WIB
15 Siswa PKL asal Pandeglang Kabur di Timika Papua akibat Disiksa ABK di Atas Kapal

Salah satu orang tua dari siswa yang PKL di kapal nelayan menunjukkan identitas anaknya. (Foto: iNews.id/Iskandar Nasution)

PANDEGLANG, iNews.id – Sebanyak 15 siswa SMK Negeri 3 Pandeglang, Banten jurusan Nautika Penangkap Ikan yang magang sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di kapal nelayan mengaku dianiaya ABK senior. Tak tahan, mereka kabur dan mencari perlindungan saat kapal sandar di Timika, Papua.

Kepada orang tuanya, salah seorang siswa mengaku ada temannya yang diikat di bagian leher karena tidak mau disuruh bekerja. Padahal menurut rekan yang lain, korban tengah sakit sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan.

Kepala Sekolah SMK 3 Pandeglang, Susilo saat dikonfirmasi membenarkan adanya siswanya yang sedang PKL di kapal nelayan. Para siswa berangkat dari Pelabuhan Perikanan Juwana, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati untuk mencari ikan hingga Perairan Papua.

Kegiatan ini sudah berlangsung sejak bulan September 2019 dengan menaiki kapal dengan kapasitas 200 gross tonnage (GT). Susilo mengaku kegiatan ini rutin dilakukan tiap tahun dan selalu berjalan baik.

“Namun beberapa waktu lalu ada satu kelompok PKL yang mengadu ke sekolah bahwa mereka mendarat di Timika, dan segera kita tindak lanjuti dengan mengumpulkan orang tua mereka,” kata Susilo, di sekolah, Senin (4/11/2019).

Sementara salah satu orang tua siswa, Asep Komarudin, membenarkan anaknya yang bernama Eli Suheri sedang melaksanakan tugas PKL ke Papua Barat. Anaknya yang masih duduk di kelas XI ini, praktek bersama teman lain dengan total 15 orang.

BACA JUGA: 7 ABK WNI yang Terkatung-katung 24 Hari di Perairan China Kembali Berlayar

“Jadi anak-anak itu disiksa sama ABK, lalu pas sandar hari Senin, mereka kabur dari kapal,” katanya, Senin (4/11/2019).

Kepada Asep, Eli mengaku hidup sengsara di atas kapal. Mereka makan dari sisa orang, karena tidak kebagian nasi. Eli juga mengatakan dia dan teman-teman ingin kabur, karena tidak tahan selalu disiksa.

“Kalau mau kabur, jangan kemana-mana, ke kantor polisi saja,” pesan Asep kepada anaknya.

BACA JUGA: Mati Mesin di Laut, Tim SAR Selamatkan 25 ABK KM Norsledi Bahari

Dia berharap anaknya dapat segera kembali pulang dengan selamat. Bersama beberapa orang tua siswa yang lain, mereka juga sudah bermusyawarah dengan pihak sekolah.

Dalam musyawarah terakhir disepakati pihak sekolah akan membantu memulangkan siswa-siswa tersebut. Namun pihak sekolah meminta uang Rp500.000 per wali murid untuk membant biaya pemulangan siswa.

Namun hal tersebut dirasa sangat memberatkan para orang tua. Mereka meminta pihak sekolah bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kejadian ini.


Editor : Umaya Khusniah