Kisah Nursaka, Pelintas RI-Malaysia yang Dapat Sepeda dari Jokowi

Maria Christina Malau, Okezone ยท Kamis, 13 September 2018 - 22:24 WIB
Kisah Nursaka, Pelintas RI-Malaysia yang Dapat Sepeda dari Jokowi

Nursaka tersenyum menunjukkan sepeda yang dihadiahkan Presiden Jokowi untuknya. (Foto: Antara)

PONTIANAK, iNews.id – Kisah Nursaka menunjukkan bagaimana seorang anak kecil mencintai Indonesia. Setiap hari, bocah berusia 8 tahun itu melewati batas negara Malaysia-Indonesia untuk bersekolah di SDN 03 Sontas, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kisahnya pun viral dan sampai ke Presiden Joko Widodo. Presiden mengirimkan sebuah sepeda yang diimpikan Nursaka selama ini.

Lewat akun Twitter Ditjen Imigrasi @ditjen_imigrasi, Kamis (13/9/2018) disebutkan, Nursaka mendapatkan sepeda dari Presiden Jokowi. Sebuah video menunjukkan Saka, panggilan akrab Nursaka, dengan wajah bangga dan bahagia membawa sepeda berwarna merah putih. Di sepeda itu ada tulisan, hadiah dari Presiden Jokowi.

Saka memang sudah lama membayangkan perjalanan ke sekolah dengan sepeda. Namun, selama ini orang tuanya belum bisa mengabulkan. Tak disangka, videonya melintasi perbatasan Malaysia-Indonesia viral di media sosial setelah petugas Imigrasi setempat membuat video mengenai perlintasannya di PLBN Entikong. Dia mengungkapkan keinginannya jika bertemu dengan Presiden. “Kalau bisa bertemu presiden, saya ingin minta sepeda,” kata Saka.

Keinginan Saka akhirnya terkabul. Presiden Jokowi menghadiahkan sebuah sepeda untuk memperlancar perjalanan siswa kelas III SD itu ke sekolah. “Terima kasih Pak Jokowi,” kata Saka dalam video yang dibagikan akun Twitter Ditjen Imigrasi.

Kisah Saka sekilas memang tak ada istimewanya. Seperti halnya dengan kisah Yohannes Ande Kala Marcal atau Joni (13), bocah pemanjat tiang bendera pada peringatan HUT ke-73 RI pada 17 Agustus 2018 lalu. Namun, tanpa mereka sadari, mereka telah menunjukkan cara mereka mencintai Indonesia. Keduanya menggerakkan hati banyak masyarakat Indonesia dan memberikan dukungan buat mereka. Keduanya juga mendapat hadiah dari Presiden Jokowi karena kisah mereka yang dinilai inspiratif.

Saka setiap hari sekolah harus melewati Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong untuk bersekolah. Anak pertama dari tiga bersaudara itu memang tinggal di Tebedu, Malaysia, mengikuti kedua orang tuanya yang bekerja di negeri itu. Tebedu merupakan desa kecil di Sarawak, Malaysia, yang berbatasan dengan Entikong.

Selama tiga tahun bersekolah, dia harus bolak-balik melintasi perbatasan Malaysia-Indonesia. Hampir setiap hari, dia menjadi pelintas batas. Saka sudah harus siap di rumahnya sebelum pukul 06.00 WIB atau pukul 05.00 waktu Malaysia. Dari rumahnya, di Tebedu, Saka berangkat ke perbatasan dengan menumpang angkutan umum.

Tiba di Border Tebedu, dia harus mengikuti prosedur dan menjalani peraturan sebagai warga negara Indonesia, dengan menyerahkan dokumen Kartu Lintas Batas (KLB). Dari Border Tebedu, Saka berjalan kaki menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Entikong.

Di border yang dibangun megah oleh Pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla ini, Nursaka juga mendapat perlakuan sama. Dokumennya diperiksa. “Setelah itu saya ke sekolah (SDN 03 Sontas) pakai ojek. Pulangnya baru menumpang kendaraan warga yang kebetulan ke Malaysia,” ungkap Nursaka, Senin (10/9/2018).

Sebelum memutuskan sekolah di Indonesia, Nursaka kerap ditawarkan untuk bersekolah di Tebedu. Namun, dia menolak dan tetap lebih memilih sekolah di Indonesia. Alasannya, dia merasa bangga menjadi anak Indonesia.

Supervisor di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Entikong Fransiscus Xaverius Ulu mengatakan, petugas Imigrasi di PLBN Entikong mengenal dan akrab dengan Saka karena setiap hari dia melintasi perbatasan Malaysia-Indonesia. Bahkan, mereka membantu mencari kendaran buat Saka.

“Pulang sekolah, dia (Nursaka) biasanya mampir ke pintu keberangkatan. Kami carikan tumpangan buat dia pulang ke Tebedu,” kata Fransiscus Xaverius Ulu.


Editor : Maria Christina