Mendikbud: 2.738 Sekolah Rusak dan 20.000-an Guru Terdampak Gempa Palu

Kuntadi ยท Rabu, 03 Oktober 2018 - 16:07 WIB
Mendikbud: 2.738 Sekolah Rusak dan 20.000-an Guru Terdampak Gempa Palu

Mendikbud Muhadjir Effendy. (Foto: dok iNews)

SLEMAN, iNews.id – Sedikitnya 2.738 bangunan sekolah terdampak bencana gempa dan tsunami di Kabupaten Sigi, Donggala dan Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Tingkat kerusakannya ada yang berat, sedang hingga ringan. Selain infrastruktur, sekitar 20.000-an guru dan tenaga pendidikan di daerah tersebut juga terdampak.

Menyikapi hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memberikan tunjangan khusus kepada guru dan tenaga pendidik di Sulteng, seperti yang juga diberikan bagi korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Ada 20.000-an guru dan 100.000-an siswa lebih yang terdampak,” kata Mendikbud Muhadjir Effendy, di sela acara Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia 2018 di Sahid J-Walk Mall, Sleman, Rabu (3/10/2018).


BACA JUGA:

7 Pesawat Hercules dan 1 Helikopter Bantuan Asing Dikerahkan ke Palu

Hari ke-5 Gempa Sulteng, Korban Meninggal Capai 1.407 Orang


Dia mengatakan, saat ini petugas Kemendikbud sudah diturunkan ke Palu untuk melakukan pendataan sekolah. Termasuk mendata guru dan tenaga kependidikan, yang menjadi korban.

Mereka nantinya akan diberikan tunjangan khusus seperti yang diberikan di Lombok, NTB. Sementara untuk siswa, akan diberikan dukungan sarana dan alat sekolah. “Itu sudah ada aturannya. Pendidikan merupakan urusan pemerintah pusat yang dilimpahkan ke daerah. Kita lihat nanti anggarannya seperti apa,” ujarnya.

Selain itu, Mendikbud mengungkapkan akan menyiapkan program pendampingan trauma healing untuk mengembalikan mental dan psikologis para siswa. Kemendikbud juga telah bekerja sama dengan sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) untuk mengerahkan timnya ke sana bencana. Bahkan, sebagian tim yang ditugaskan di NTB sudah ditarik untuk dipindah ke Palu, Sigi atau pun Donggala.

Saat ini Kementerian akan segera membangun sekolah darurat di lokasi gempa. Siswa harus kembali sekolah agar tidak terlalu lama meninggalkan bangku sekolag. Meski di tenda darurat, siswa harus sekolah agar bisa melupakan bencana yang menimpa masyarakat.

Sekolah darurat ini akan dibangun di dekat sekolah lama untuk mengembalikan dampak psikologis. Namun jika terpaksa bisa saja dibangun di lokasi pengungsian. “Yang penting anak-anak bisa sekolah lagi,” ujarnya.

Muhadjir menuturkan, selain mendirikan sekolah darurat, pemerintah juga akan melakukan pembangunan sekolah. “Untuk bangunan kerusakan parah akan ditangani Kementerian PUPR, sedangkan yang rusak ringan proses rehabilitasi akan ditangani Kemendikbud,” tuturnya.


Editor : Donald Karouw