6 Fakta Pemerkosaan dan Pembunuhan Gadis Badui di Lebak, Nomor 4 Mencengangkan

Irfan Ma'ruf ยท Senin, 02 September 2019 - 12:19 WIB
6 Fakta Pemerkosaan dan Pembunuhan Gadis Badui di Lebak, Nomor 4 Mencengangkan

Gubuk tempat mayat gadis Badui yang diperkosa dan dibunuh ditemukan di K ampung Kadu Heulang, Desa Cisimeut Raya, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. (Foto: Sindonews)

JAKARTA, iNews.id – Teka-teki pembunuhan dan pemerkosaan terhadap S (13), remaja perempuan asal suku Badui di Kampung Karahkal, Desa Cisimeut Raya, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, belum terungkap. Polisi masih melakukan berbagai upaya untuk menemukan pelaku mulai dari pemeriksaan sejumlah saksi sampai melibatkan anjing pelacak.

“Semua masih dalam proses lidik dan mesti kita tunggu perkembangannya,” kata Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi saat dihubungi iNews.id, Senin (2/9/2019).

Edy mengatakan, polisi masih memeriksa saksi-saksi dan melakukan berbagai upaya untuk mengungkap kasus yang terjadi di perkebunan Kampung Tanjakan Kadu Helang, Desa Cisimeut Raya, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Serang, Banten, Jumat (30/8/2019).

Sejauh ini, iNews.id merangkum beberapa fakta kasus pemerkosaan dan pembunuhan anak di bawah umur tersebut, yakni:

1. Korban ditemukan tewas saat keluarganya bekerja di kebun.

Korban S (13) ditemukan tewas oleh kakak kandungnya pada Jumat, 30 Agustus 2019, menjelang sore hari. Pada saat kejadian, tidak ada satu keluarga pun bersamanya di gubuk atau saung tersebut.

“Keluarganya kerja. Nah korban ini kerja di kebun orang. Pas siang saat kejadian, dia sendirian. Tadinya sama kakaknya, lalu kakaknya lagi keluar cari burung, terus pas pulang korban sudah meninggal,” kata Kepala Desa Kanekes Jaro Saija saat dihubungi, Jumat (30/8/2019).


2. Ditemukan sperma di tubuh korban.

Polisi menduga korban S diperkosa dulu sebelum dibunuh. Dari hasil pemeriksaan dan autopsi di RS dr Drajat Prawiranegara, ditemukan sperma di tubuh korban.

“Patut diduga, korban diperkosa terlebih dahulu sebelum dibunuh. Karena di kemaluan korban didapatkan cairan sperma,” ujar Kapolres Lebak AKBP Dani Arianto, Sabtu (31/8/2019).Pelaku memerkosa dan membunuh korban di tengah perkebunan Kampung Tanjakan Kadu Helang, Desa Cisimeut Raya, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Serang, Banten. “Iya betul, ditemukan sore hari di gubuk di area perkebunan,” ujar Jaro, Jumat (30/8/2019).


3. Korban diduga melakukan perlawanan terhadap pelaku.

Kapolres Lebak AKBP Dani Arianto mengatakan, saat korban ditemukan, terdapat banyak luka di sekujur tubuhnya. Luka itu di bagian kepala, luka sobek di wajah, bahu, tangan kiri dan kanan, serta bagian kaki. Korban kemungkinan besar melakukan perlawanan sehingga pelaku membunuh dengan senjata tajam.


4. Golok ayah korban hilang dari TKP.

Korban S tewas dihabisi oleh pelaku diduga menggunakan golok milik orang tuanya. Golok tersebut sehari-hari digunakan untuk berkebun oleh ayah dan abang kandung korban. Dari hasil olah TKP, golok itu hilang dari gubuk tempat korban ditemukan tewas.

“Hasil olah TKP yang di lakukan oleh Kapolres Lebak, penyidik dan tim Inafis Polda Banten, diduga korban dibunuh menggunakan golok milik orang tuanya. Untuk goloknya belum ditemukan (hilang) hanya sarungnya saja yang ditemukan di TKP,” kata Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi, Minggu (1/9/2019).


5. Polisi periksa lima saksi.

Dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan S (13), remaja Badui pada Jumat (30/8/2019) siang itu, polisi telah memeriksa lima saksi yakni orang tua korban Sarka dan Arni, kakak korban Arsad, dan dua warga Cisimeut Raya.

“Lima orang sudah kami periksa termasuk keluarga korban dan dua warga sekitar,” kata Kapolres Lebak, Sabtu (31/8/2019).


6. Polisi kejar pelaku dengan bantuan anjing pelacak.

Polisi menerjunkan tim khusus pelacak, yaitu Tim K-9 Unit Anjing Pelacak milik Ditsamapta Polda Banten untuk membantu mengungkap kasus pemerkosaan dan pembunuhan S.

“Anjing pelacak untuk menelusuri dan mengendus jejak pelaku yang diduga lari ke arah hutan,” kata Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi, Minggu (1/9/2019).


Editor : Maria Christina