6 Kecamatan di Konawe Utara Sultra Masih Terendam Banjir, 5.703 Jiwa Mengungsi

Ilma De Sabrini, Febriyono Tamenk ยท Rabu, 12 Juni 2019 - 16:08 WIB
6 Kecamatan di Konawe Utara Sultra Masih Terendam Banjir, 5.703 Jiwa Mengungsi

Tim SAR gabungan mengevakuasi warga korban banjir di sejumlah titik di Kabupaten Konawe Utara, Sultra, Rabu (12/9/2019). (Foto: iNews/Febriyono Tamenk)

JAKARTA, iNews.id – Banjir masih merendam enam kecamatan di Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), setelah Sungai Lalindu, Sungai Walasolo dan Sungai Landawe meluap. Data terakhir, korban banjir yang mengungsi sudah 1.598 kepala keluarga (KK) dengan jumlah 5.703 jiwa. Mereka berasal dari 42 desa dan tiga kelurahan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, jumlah itu merupakan data yang diperbaharui hingga Selasa malam (11/6/2019). Adapun rincian sebaran pengungsi yakni, di Kecamatan Andowia sebanyak 526 KK dengan jumlah 1.665 jiwa dari empat desa dan satu kelurahan.

“Di Kecamatan Oheo, sebanyak 202 KK atau 573 jiwa pengungsi yang berasal dari 14 desa dan satu kelurahan. Di Kecamatan Asera sebanyak 655 KK dengan jumlah 2.608 jiwa yang berasal dari 13 desa dan satu kelurahan,“ kata Sutopo dalam siaran pers yang diterima, Rabu (12/6/2019).


BACA JUGA: Mensos Beri Bantuan Rp3,7 M untuk Korban Banjir Konawe Utara dan Konflik Buton


Selanjutnya di Kecamatan Landawe ada 103 KK atau 409 jiwa pengungsi yang berasal dari enam desa. Di Kecamatan Langgikima, 12 KK sebanyak 48 jiwa yang berasal dari dua desa. Terakhir di Kecamatan Wiwirano, banjir melanda tiga desa, namun jumlah pengungsi masih dalam pendataan.

Sutopo memaparkan, sampai dengan Selasa malam pukul 21.00 WITA, banjir besar itu telah mengakibatkan sedikitnya 202 unit rumah hanyut, 1.396 unit rumah terendam. Banjir juga berdampak pada lahan pertanian dengan rincian lahan sawah seluas 970,3 hektare, lahan jagung seluas 83,5 ha, dan lahan pertanian lainnya seluas 11 ha.

“Banjir mengakibatkan 402 ha tambak terenadam. Sebanyak tiga unit pasar tradisional juga terendam, yaitu Pasar Landawe, Lembo dan Laronanga,” katanya.


BACA JUGA: Banjir di Konawe Sultra Meluas, 69 Desa Terendam dan 2.000 KK Terdampak


Sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial terendam banjir, masing-masing 28 gedung sekolah, yang terdiri atas 8 gedung SD, 3 SMP, dan 17 gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Selain itu, ada dua gedung balai desa terendam.

Hingga kini, banjir juga telah menyebabkan sejumlah jembatan penghubung desa terputus. Salah satunya, jembatan penghubung Desa Laronanga dan Desa Puwonua yang hanyut. Kemudian, satu jembatan di Desa Padalerutama tidak bisa dilalui karena terendam. Jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan Desa Tanggulari-Desa Tapuwatu juga masih terputus.

“Satu jembatan pada jalan antarprovinsi di Kelurahan Asera terputus dan satu jembatan di Desa Amorome Utama hanyut,” ujarnya.

Banjir di Konawe Utara juga mengakibatkan lima bangunan masjid terendam. Sementara fasilitas kesehatan yang terendam, yakni dua unit puskesmas di Kecamatan Andowia dan dua unit puskesmas pembantu,” ujarnya.

Sutopo menambahkan, hingga kini masih ada tiga desa yang belum bisa dijangkau karena akses yang putus dan derasnya aliran air. Tiga desa tersebut berada di Kecamatan Wiwirano, yakni Desa Padalere Utama, Desa Padalere, dan Desa Lamonae Utama.

Saat ini, tim BNPB dan BPBD berkoordinasi dengan bupati terkait penanganan darurat. Tim Reaksi Cepat BNPB juga terus mendampingi BPBD.

“Berhubung beberapa tempat belum bisa dihubungi karena empat jembatan putus dan longsor, maka bantuan disalurkan dengan helikopter BNPB. Dropping bantuan dari Jakarta dengan pesawat kargo terus disalurkan,” kata Sutopo.


Editor : Maria Christina