Begini Kericuhan Demo Mahasiswa Tuntut Kenaikan Harga Kopra di Manado

Subhan Sabu ยท Senin, 26 November 2018 - 20:21 WIB
Begini Kericuhan Demo Mahasiswa Tuntut Kenaikan Harga Kopra di Manado

Suasana pembakaran ban bekas saat demo mahasiswa di Kantor DPRD Sulut yang memicu kericuhan. (Foto: Subhan Sabu)

MANADO, iNews.id – Ratusan Mahasiswa dari berbagai organisasi melangsungkan aksi demo damai di Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sebagai bentuk kekecewaan anjloknya harga kopra, Senin (26/11/2018). Unjuk rasa yang awalnya tertib ini mendadak ricuh saat massa terlibat aksi lempar dan saling dorong dengan pegawai DPRD Sulut dan polisi.

Pantauan di lokasi, para mahasiswa yang berunjuk rasa yakni berasal dari Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unima dan BEM Unsrat.

Mereka mengatasnamakan diri sebagai Gerakan Kolektif Perjuangan Rakyat Sulawesi Utara (Gerakan Kopra Sulut). Awalnya massa mahasiswa berkumpul di Lapangan Sparta Tikala dan melakukan longmarch sejauh 5,7 KM menuju kantor DPRD Sulut sambil menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan yel-yel. Mereka juga tampak membawa berbagai spanduk yang bertuliskan ‘save petani kopra’, ‘tolak sawit’, ‘gerakan kopra Sulut naikkan harga kopra’, ‘stabilkan harga kopra’, dan sejumlah tuntuan lainnya.


Dalam aksinya, massa menuntut agar para wakil rakyat mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut segera menstabilkan kembali harga kopra. Pemda juga harus membuat regulasi peraturan daerah (perda) untuk mengontrol harga komoditas pertanian (kopra)

"Pemerintah harus menghadirkan BUMD untuk mengelola dan memproduksi hasil pertanian (kopra) sebagai bentuk industrialisasi di sektor pertanian," ujar Alfian, salah satu koordinator aksi tersebut, Senin (26/11/2018).


BACA JUGA:

Ratusan Pengemudi Ojol Demo Desak Prabowo Minta Maaf secara Terbuka

Harga Kopra Anjlok, Petani Boikot Jalan Trans Tobelo-Galela


Massa juga menuntut pemerintah memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk mengonsumsi hasil produk lokal seperti minyak kelapa kopra. Selain itu, mempertegas sistem ekonomi bangsa dengan kembali pada Pasal 33 UUD 1945.

Aksi yang awalnya tidak mendapat tanggapan dari Anggota DPRD Sulut itu membuat para mahasiswa melakukan pembakaran ban bekas di halaman Kantor DPRD Sulut. Melihat adanya pembakaran ban, sejumlah pegawai DPRD Sulut bereaksi dan berusaha memadamkan api tersebut.

Hal itu memancing emosi pendemo. Mereka berupaya menghalangi para pegawai yang membawa air untuk memadamkan api. Tak pelak aksi saling pukul, dorong dan lempar pun tak terelakan. Polisi yang ada di lokasi bergerak cepat untuk menguasai keadaan dan melerai kedua belah pihak agar tidak berbuntut panjang.

Aksi massa akhirnya diterima Wakil Ketua DPRD Sulut Wenny Lumentut, Anggota DPRD Sulut Billy Lombok, bersama Rocky Wowor dan Netty Agnes Pantouw. Mereka meminta pengunjuk rasa tertib dan duduk bersama membahas harga kopra sesuai dengan perda yang ada.

Selanjutnya, para anggota DPRD meminta perwakilan dari mahasiswa untuk berdialog di dalam ruangan rapat. Namun mahasiswa menolak dan meminta agar semuanya diizinkan masuk. Aksi dorong kembali terjadi namun kali ini dengan polisi yang melakukan pengamanan.

Tak bisa menembus barikade polisi, massa kembali membakar kardus bekas. Kericuhan kembali terjadi dengan diwarnai aksi kejar-kerjaran. Bentrokan ini akhirnya berhenti dengan sendirinya setelah massa membubarkan diri.


Editor : Donald Karouw