Belajar di Tenda Darurat, Siswa Korban Gempa Lombok: Panas Pak Menteri

Antara ยท Sabtu, 13 Oktober 2018 - 04:05 WIB
Belajar di Tenda Darurat, Siswa Korban Gempa Lombok: Panas Pak Menteri

Siswa SMP korban gempa Banjarnegara belajar di tenda darurat Kemendikbud. (Foto: Dok.iNews.id)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

SUMBAWA, iNews.id – Puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri Labuhan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang menjadi korban gempa mengaku tidak bisa berkonsentrasi saat belajar di tenda plteno yang dijadikan kelas darurat.

Panasnya cuaca terlebih di dalam tenda membuat mereka harus sering mengelap keringat. "Panas pak menteri," kata para siswa menjawab pertanyaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, ketika meninjau SDN Labuhan Alas, Kabupaten Sumbawa, Jumat (12/10/2018).

Beberapa tenda pleton dibangun di tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan yang mengering akibat kemarau. Lokasinya tidak jauh dari gedung SDN Labuhan Alas, SLB Alas, dan SMPN 3 Alas yang rusak berat akibat gempa bumi berkekuatan 7,0 Skala Richter yang mengguncang Pulau Lombok dan sekitarnya pada 19 Agustus 2018.

Robi, salah seorang siswa kelas IV SDN Labuan Alas, mengaku tetap semangat belajar, meskipun di dalam tenda dengan suhu yang panas. "Senang, tapi panas sekali. Saya ingin belajar di dalam ruang kelas seperti sebelum gempa," tuturnya.

Mendikbud Muhadjir Effendy, mengakui bahwa ruang kelas belajar yang terbuat dari tenda pleton tersebut belum sesuai standar UNICEF. "Tapi mereka (siswa) akan segera pindah ke ruang kelas belajar sementara yang sedang dalam proses pembangunan. Rencananya sebulan lagi selesai," katanya.

BACA JUGA: 3 Bayi Lahir dengan Selamat di Tenda Darurat Korban Gempa Lombok

Usai mengunjungi para siswa yang belajar di tenda, Mendikbud Muhadjir, mengecek konstruksi bangunan ruang kelas belajar sementara yang dibangun oleh PT Waskita Karya, di lahan milik SMPN 3 Alas.

Beberapa catatan diberikan kepada pelaksana pembangunan, terutama mengenai ketinggian dinding dan ventilasi udara agar para siswa tidak terlalu kepanasan, terutama pada siang hari.

Kemendikbud mencatat jumlah sekolah rusak di Pulau Sumbawa akibat gempa sebanyak 193, terdiri atas rusak berat 99 unit, rusak sedang 23 unit, dan rusak ringan 77 unit. Ratusan sekolah terdampak gempa tersebut tersebar di Kabupaten Sumbawa Barat sebanyak 57 unit, dan Sumbawa sebanyak 136 unit.

Sementara jumlah siswa terdampak gempa sebanyak 20.775 orang, tersebar di Kabupaten Sumbawa Barat sebanyak 4.742 anak dan di Sumbawa 16.033 anak. 


Editor : Kastolani Marzuki