BMKG Terus Monitoring Gempa Susulan di Malut, Bali dan Ambon Pascagempa M7,1

Ilma De Sabrini ยท Sabtu, 16 November 2019 - 20:57 WIB
BMKG Terus Monitoring Gempa Susulan di Malut, Bali dan Ambon Pascagempa M7,1

Ilustrasi gempa bumi. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id – Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih terus memonitoring pascagempa Magnitudo 7,1 di Maluku, pada Kamis (14/11/2019), pukul 23.17 WIB. Hingga Sabtu (16/11/2019), telah terjadi 185 kali aktivitas gempa susulan (aftershocks) dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman.

Dari data hingga Sabtu sore pukul 18.00 WIB tersebut, tercatat gempa susulan dengan magnitudo paling besar M6,1 dan terkecil M2,7. Gempa susulan dengan guncangan dirasakan terjadi sebanyak 10 kali.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, gempa Laut Maluku memiliki tipe diawali gempa pendahuluan (foreshocks), kemudian terjadi gempa utama (main shock), dan selanjutnya diikuti oleh serangkaian aktivitas gempa susulan.

Sebelum terjadi gempa utama M7,1 pada 14 November 2019 pukul 23.17 WIB, di sekitar lokasi episenter gempa utama telah terjadi dua kali aktivitas gempa. Masing-masing pada 12 November 2011 pukul 15.11 WIB dengan M4,4 dan pada 13 November 2019 pukul 18.18 WIB dengan M3,4.

“Aktivitas dua gempa ini diyakini sebagai gempa pendahuluan dari gempa Laut Maluku,” kata Rahmat Triyono dalam siaran pers yang diterima Sabtu (16/11/2019).

 

BACA JUGA:

BMKG: 151 Gempa Susulan Guncang Laut Maluku hingga Sabtu Pagi

Gempa Hari ini Magnitudo 5,0 Guncang Jailolo Malut, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami

 

Rahmat mengatakan, sebelumnya, pada petang hari 14 November 2019 pukul 17.21, wilayah Bali Utara juga diguncang gempa M5,0. Gempa yang sempat membuat panik masyarakat Bali ini juga diikuti oleh serangkaian gempa susulan. Hingga Sabtu (16/1/2019) pukul 18.00 WIB, telah tercatat sebanyak 100 kali gempa susulan.

“Seperti halnya gempa Laut Maluku, gempa Bali Utara ini juga didahului oleh gempa pendahuluan pada pukul 17.09 WIB dengan magnitudo 4,4 dan pukul 17.10 WIB dengan Magnitudo 4,6,” katanya.

Jauh hari sebelumnya, Ambon dan sekitarnya juga diguncang gempa M6,5 pada 26 September 2019. Gempa ini sangat destruktif dan menimbulkan korban jiwa. Hingga hari ini pukul 18.00 WIB, BMKG masih mencatat aktivitas gempa susulan hingga sebanyak 2.345 kali dengan magnitudo terbesar M5,6 dan terkecil M3.0. Adapun gempa susulan yang guncangannya dirasakan terjadi sebanyak 269 kali.

Gempa Ambon juga didahului oleh serangkaian gempa pendahuluan. Sebelum terjadi gempa utama, BMKG mencatat rentetan gempa pendahuluan dengan magnitudo antara 1,5-3,5 sebanyak 30 kali sejak 28 Agustus 2019,” katanya.

 

BACA JUGA: Kekuatan Gempa di Sulut Setara 30-40 Kali Bom Atom Hiroshima

 

Rahmat menjelaskan, meskipun gempa Laut Maluku, gempa Bali Utara, dan gempa Ambon memiliki tipe yang sama, yaitu sama-sama didahului oleh serangkaian gempa pendahuluan, ketiganya memiliki perbedaan. Dua perbedaan itu dalam hal sumber gempa dan mekanisme sumbernya.

Gempa Laut Maluku dipicu oleh adanya deformasi batuan dalam lempeng Laut Maluku. Gempa Bali dibangkitkan oleh sumber gempa sesar naik di Utara Bali. Sementara gempa Ambon terjadi akibat aktivitas sesar aktif yang belum terpetakan sebelumnya.

Selain berbeda dalam sumber gempa, ketiga gempa tersebut juga berbeda dalam mekanisme sumbernya. Gempa Laut Maluku memiliki mekanisme sumber sesar naik (thrust fault), gempa Utara Bali memiliki mekanisme sumber kombinasi pergerakan dalam arah mendatar dan naik (oblique thrust), dan gempa Ambon memiliki mekanisme sesar geser (strike slip).


Editor : Maria Christina