Guru Bimbel di NTB Cabuli 7 Anak Jalanan, Modus Difasilitasi Tonton Video Porno

Harikasidi ยท Senin, 29 Juli 2019 - 18:06 WIB
Guru Bimbel di NTB Cabuli 7 Anak Jalanan, Modus Difasilitasi Tonton Video Porno

Tersangka pelaku pencabulan anak-anak jalanan, ECF, saat pemaparan kasus di Mapolda NTB, Kota Mataram, Senin (29/7/2019). (Foto: iNews/Harikasidi)

MATARAM, iNews.id – Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) menangkap seorang guru di salah satu bimbingan belajar (bimbel) ternama di Kota Mataram karena diduga mencabuli anak-anak jalanan. Hingga kini, tersangka berinisial ECF diperkirakan sudah mencabuli tujuh anak.

Tersangka ECF merupakan warga Tanggeung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dia baru menetap di Lombok, NTB, sekitar empat tahun terakhir. Tersangka ditangkap pada Kamis (25/7/2019), setelah Polda Jatim mendapat laporan dari para korban.

Direktur Reskrimum Polda NTB Kombes Pol Kristiaji menjelaskan, dari hasil pemeriksaan, tersangka ECF menggunakan modus meminjamkan ponselnya kepada anak-anak untuk menonton video dan film porno. Setelah itu, tersangka mengajak para korban berhubungan badan.

“Jadi, tersangka ECF ini memberikan fasilitas ponsel miliknya kepada anak-anak untuk bisa menonton video porno, termasuk juga untuk membuka Facebook. Setelah anak-anak ini menonton video porno, anak-anak ini dicabuli oleh pelaku. Tidak sekaligus, tapi tentu prosesnya bergantian, sendiri-sendiri,” kata Kristiaji saat pemaparan di Mapolda NTB, Senin (29/7/2019).

BACA JUGA:

Korban Perdagangan Manusia, 12 Gadis Cantik Asal Bandung Diamankan di Situbondo

Miris, 5 dari 12 Gadis Bandung Korban Perdagangan Orang Masih di Bawah Umur

Dalam menjalankan aksi bejatnya tersebut, tersangka memberikan imbalan uang sebesar Rp50.000 hingga Rp70.000 kepada setiap korban. Para korban ada yang sudah dicabuli berkali-kali karena diiming-imingi menonton video porno tersebut.

Kristiaji mengatakan, untuk menangani kasus itu, Polda NTB bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB. “Atas laporan ini, kami kemudian bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak NTB, melakukan profiling terhadap para korban serta terhadap pelaku. Kami kemudian menangkap pelaku,” kata Kristiaji.

Selain menangkap tersangka, polisi menyita barang bukti sejumlah pakaian, ponsel, minyak zaitun, dan krim sebagai barang bukti. Dari laporan yang masuk ke polisi, sudah ada tujuh anak jalanan yang menjadi korban ECF.

“Atas perbuatannya, tersangka diancam dengan Undang-Undang tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp5 miliar,” katanya.

Sementara Ketua LPA NTB Joko Djumadi mengaku prihatin dengan aksi bejat guru bimbel terhadap anak-anak jalanan. Dari hasil pemeriksaan, pelaku bahkan mencabuli para korban yang masih anak-anak di kamarnya dan di tempat bimbingan belajar. Ini juga menunjukkan kurangnya pengawasan dari pihak bimbel dan keluarga korban.

“Kenapa kejadian itu bisa dilakukan di tempatnya dia, ada yang di kamarnya, di tempat belajar, ruang belajar bimbingan belajar. Korbannya anak-anak jalanan dari luar semua dibawa ke bimbel. Rata-rata dicabuli malam hari,” kata Joko.

Joko mengatakan, LPA NTB akan memberi pendampingan dan pemulihan terhadap para korban. Apalagi, rata-rata anak jalanan yang menjadi korban pedofil berusia 13 hingga 14 tahun. “Korban ini ada yang dicabuli berkali-kali, ada dua kali, delapan kali, bahkan mungkin lebih. Karena pelaku ini sudah setahunan seperti itu,” katanya.


Editor : Maria Christina