Ini Lafal Niat Puasa Sunah Asyura dan Keutamaannya

Kastolani ยท Senin, 09 September 2019 - 19:01 WIB
Ini Lafal Niat Puasa Sunah Asyura dan Keutamaannya

Umat islam di Lamongan, Jatim menggelar pawai menyambut 1 Muharram 1441 Hijriah. (Foto: Dok.iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Innamal a’malu bil niyat. Segala perbuatan itu bergantung pada niatnya. Hadis Nabi SAW dalam Shahih Bukhori tersebut menegaskan niat merupakan salah satu rukun puasa dan ibadah lain pada umumnya.

Saat niat di dalam hati seseorang menyatakan maksudnya, dalam hal ini berpuasa (qashad).

Di samping qashad, seseorang juga menyebutkan hukum wajib atau sunah perihal ibadah yang akan dilakukan. Hal ini disebut ta’arrudh. Sedangkan hal lain yang mesti diingat saat niat adalah penyebutan nama ibadahnya (ta’yin).

Untuk memantapkan hati, ulama menganjurkan seseorang untuk melafalkan niatnya.

Berikut ini contoh lafal niat puasa sunah Asyura yang akan dilaksanakan pada Selasa (10/9/2019). 

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.
 Artinya, “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.”

Seperti diketahui, Bulan Muharram merupakan salah satu bulan istimewa dan dimuliakan oleh Allah SWT. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan-amalan dan ibadah. Salah satunya puasa Asyura atau puasa di hari ke-10 Muharram.

BACA JUGA: Keutamaan Puasa Asyura, Pahalanya Bisa Menghapus Dosa-Dosa Selama Setahun

Anjuran untuk berpuasa di hari ke-10 ini karena pahalanya sangat besar dan dapat menghapus dosa-dosa selama satu tahun. Puasa Asyura 10 Muharram ini jatuh bertepatan dengan 10 September 2019.

Imam Nasai menjelaskan mengenai Rasulullah yang melaksanakan puasa di bulan Muharram setelah bulan Ramadan. Kemudian Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa Muharram.

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya Muharram adalah bulannya Allah yang di dalamnya tepat menjadi hari bertaubat umat Islam atas dosa-dosa yang terdahulu".

Tentang keutamaan puasa ‘Asyura Ibnu Abbas menyatakan: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaannya selain hari ini (‘Asyura) dan tidak pada suatu bulan selain bulan ini (maksudnya: bulan Ramadhan)." (HR. Al-Bukhari.)

Penuturan Ibnu ‘Abbas ini menunjukkan betapa penting dan besarnya hikmah puasa ‘Asyura. Ia mengisahkan begitu sungguh-sungguhnya Nabi SAW melakukan puasa sepuluh Muharram. Pada hari tersebut, Nabi SAW berharap kepada Allah SWT agar dosanya di tahun sebelumnya diampuni. 

Dalam riwayat lain, sebagaimana yang terdapat dalam Musnad Al-Humaidi, Rasulullah SAW bersabda, “Puasa ‘Asyura dapat mengampuni dosa satu tahun sebelumnya.” Adapun dosa yang dimaksud di sini ialah dosa kecil, bukan dosa besar.

Sebab dosa besar akan diampuni oleh Allah melalui pertobatan. Selain itu, hikmah atau manfaat puasa ‘Asyura akan diperoleh selama melakukan puasa tersebut tidak ada unsur riya dan dilakukan dengan penuh keikhlasan, semata-mata mengharap ridha Allah SWT.

Selain dosa kecil diampuni, mengerjakan puasa ‘Asyura disetarakan dengan puasa selama satu tahun. 

Sebelum melaksanakan puasa Asyura, umat Islam dianjurkan untuk puasa Tasu’a atau puasa di hari ke-9 Muharram. Hal ini untuk menyelisihi dengan kaum Yahudi saat Nabi hijrah ke Yatsrib yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah Al Munawaroh.

Saat itu, kaum Yahui berpuasa Asyura dengan dalih sebagai ungkapan rasa syukur atas diselamatkannya Bani Israil oleh Allah.

Pendapat ulama yang menganjurkan puasa sebelum dan sesudah sepuluh Muharram berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW berkata: “Puasalah kalian pada hari Asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Kerjakan puasa dari satu hari sebelumnya sampai satu hari sesudahnya,” (HR Ahmad).

Hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud ‘Asyura itu adalah sepuluh Muharram, bukan sembilan Muharram. Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW meminta pelaksanaan puasanya menjadi tiga hari, yaitu dari tanggal sembilan sampai sebelas. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi berencana puasa tanggal sembilan Muharram, namun Beliau sudah wafat sebelum menunaikan niat itu.

Penjelasan ini dapat dipahami bahwa ulama menyepakati kesunahan puasa ‘Asyura. Bahkan dianggap sebagai puasa yang paling utama setelah Ramadhan. Akan tetapi, lebih disunahkan lagi mengerjakannya mulai dari tanggal sembilan hingga sebelas.

Sumber: 

http://www.piss-ktb.com/2012/11/2053-keutamaan-asyura-1.html
https://islam.nu.or.id/post/read/71901/hikmah-puasa-asyura

 


Editor : Kastolani Marzuki