Ini Pengakuan Siswi SMK Jadi Kurir Sabu Dalam Anus di Bandara Haluoleo

Febriyono Tamenk ยท Rabu, 01 November 2017 - 12:38 WIB
Ini Pengakuan Siswi SMK Jadi Kurir Sabu Dalam Anus di Bandara Haluoleo

Vera kurir sabu yang ditangkap di Bandara Haluoleo, Kendari. (Foto:iNews.id/Febriyono Tamenk)

KENDARI, iNews.id - Gadis belia pengedar sabu jaringan internasional, Vera (18) menjalani pemeriksaan di kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Dia ditahan karena kedapatan membawa 104 dan 80 gram  sabu yang disimpan dalam anusnya di Bandara Haluoleo Kendari pada Selasa, 31 Oktober 2017.

Menurut pengakuan Vera, siswi SMKN 1 Sungguminasa Sulawesi Selatan. Dia nekat menjadi kurir sabu, karena tergiur dengan keuntungan yang besar. Sekali mengantarkan sabu, dia diberi upah Rp7 juta, dari bosnya yang bernama Mas Bro.

Uang yang dihasilkan menjadi kurir sabu, dia pakai untuk membantu temannya yang ditangkap kepolisian. “Sekali kirim dapat Rp7 juta, uangnya untuk bantu teman yang ditangkap,” ujarnya, Rabu (01/11/2017).

Dia mengaku sudah tiga kali melakukan pekerjaan ini, dengan rute Malasyia-Tarakan, Tarakan-Makassar dan Makassar-Kendari. “Saya mengirim sudah tiga kali,” katanya. Sementara itu orang tua Vera, sama sekali tidak mengetahui.  Jika anaknya melakukan pekerjaan haram menjadi kurir narkoba.

Pihak penyidik BNNP Sulawesi Tenggara, akan terus melakukan proses hukum terkait kasus yang menimpa Vera. Sebab saat penangkapan di Bandara Haluoleo dan menjalani pemeriksaan urine, Vera negatif menggunakan narkoba.

“jadi untuk proses rehabilitasi tidak akan di lakukan, pada saat pemeriksaan yang bersangkutan tidak menggunakan narkoba,” tegas Isamudin, penyidik BNNP Sultra.

Sejak ditangkap, Vera terus menangis di dalam sel, ia mengingat ibunya yang berada jauh di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. “Dia terkadang masih menangis karena mengingat orang tuanya,” imbuhnya.

Saat ini tim pemberantasan narkoba dari BNNP Sultra, terus melakukan penyelidikan terhadap Vera. Untuk memburu pelaku lainya, yang masih berkeliaran di Sulawesi Tenggara.


Editor : Kurnia Illahi