Kesaksian Korban Selamat KM Lintas Timur yang Tenggelam, Terapung 4 Hari di Laut

Antara ยท Kamis, 06 Juni 2019 - 02:02 WIB
Kesaksian Korban Selamat KM Lintas Timur yang Tenggelam, Terapung 4 Hari di Laut

Ilustrasi pencarian kapal tenggelam. (Foto: Okezone)

PALU, iNews.id – Pencarian Kapal KM Lintas Timur yang tenggelam di perairan Selat Taliabo, Provinsi Maluku Utara (Malut), masih terus dilakukan. Hingga kini, baru satu dari 18 anak buah kapal (ABK) yang ditemukan selamat dalam kecelakaan laut itu.

Kepala Kantor SAR Palu Basrano mengatakan, dari keterangan ABK yang selamat, Yakub (33), KM Lintas Timur tempatnya bekerja itu tenggelam pada Sabtu, 1 Juni 2019 sekitar pukul 14.00 Wita.

Yakub mengaku sudah terapung di laut selama empat hari. Dia baru diselamatkan oleh sebuah kapal yang sedang melintas di perairan Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah (Sulteng), pada Selasa (4/6/2019).

BACA JUGA:

Basarnas Kerahkan Kapal SAR Cari KM Lintas Timur yang Tenggelam Bersama 17 ABK

Kapal KM Lintas Timur Tenggelam di Banggai Laut, 19 Penumpang Masih Dicari

Warga Kota Ambon tersebut mengatakan, tenggelamnya KM Lintas Timur berawal saat mereka berlayar dari Bitung, Sulawesi Utara, menuju Morowali, Sulteng. Kapal yang dinakhodai Martinus Matitaputi tersebut membawa semen.

Dalam perjalanan, mesin kapal tiba-tiba mati. Mereka harus singgah di Lolak, Maluku Utara, untuk memperbaiki mesin kapal. Setelah berlayar dari Lolak, mesin kapal kembali mati dan semua lampu penerangan ikut mati.

“Para awak kapal berusaha memperbaiki kerusakan mesin, namun gagal,” kata Yakub di Palu, Rabu (5/6/2019).

Saat itu, kata Yakub, kondisi cuaca sangat buruk dan gelombang cukup tinggi. Akibatnya, posisi kapal tidak bisa dikendalikan saat terhempas gelombang besar.

“Kapten kapal kemudian memerintahkan kami semua untuk meninggalkan kapal. Posisi kapal saat itu berada di sekitar Taliabo, Maluku Utara,” ujarnya.

Yakub kemudian terapung-apung di laut selama empat hari. Pada Selasa (4/6/2019) petang, Kapal MV Nurbayaksar melintas dan menyelamatkannya.


Editor : Maria Christina