Koalisi Jurnalis Sultra Kecam Remisi untuk Pembunuh Jurnalis di Bali

Mukhtaruddin ยท Jumat, 25 Januari 2019 - 20:42 WIB
Koalisi Jurnalis Sultra Kecam Remisi untuk Pembunuh Jurnalis di Bali

Puluhan jurnalis se-Sultra menginjak kartu persnya sebagai simbol matinya kemerdekaan pers saat aksi damai mengecam remisi terhadap pembunuhan jurnalis Bali, Jumat (25/1/2019). (Foto: iNews/Mukhtaruddin)

KENDARI, iNews.id – Koalisi Jurnalis Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar aksi damai untuk mengecam keputusan pemerintah memberikan remisi terhadap I Nyoman Susrama, otak pembunuhan jurnalis di Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, Jumat sore (25/1/2019). Remisi itu dinilai menciderai rasa keadilan terhadap keluarga dan jurnalis seluruh Indonesia.

I Nyoman Susrama ditahan sejak 26 Mei 2009 lalu di Rumah Tahanan (Rutan) Klas IIB Kabupaten Bangli, Bali, setelah terbukti membunuh jurnalis Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, pada 11 Februari 2009 lal. Pembunuhan itu terjadi di rumah Susrama di Banjar Petak, Kabupaten Bangli, Bali.

Pengadilan Negeri (PN) Denpasar memvonis I Nyoman Susrama hukuman penjara seumur hidup pada 15 Februari 2010. Dengan remisi yang diberikan pada 7 Desember 2018 lalu, maka hukumannya kini menjadi 20 tahun penjara.

BACA JUGA:

Jurnalis RTV Dianiaya di Banten, IJTI Minta Polisi Tindak Tegas Pelaku

Wartawan di Penjuru Dunia Makin Jadi Target Pembunuhan

3 Wartawan di Kendari Diancam Oknum Polisi saat Liput Kasus Kriminal

Koalisi Jurnalis Sultra yang terdiri atas Jurnalis Televisi Indonesia, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sultra, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Kota Kendari, dan pers Kampus UHO menilai, pemberian remisi tersebut merupakan kemunduran dalam penegakan kemerdekaan pers. Puluhan jurnalis se-Sultra ini menuntut agar pemerintah mencabut kembali remisi itu.

“Kebijakan Presiden Joko Widodo dengan memberikan remisi terhadap terpidana Susrama sangat melukai rasa keadilan tidak hanya pada keluarga korban, tapi juga seluruh jurnalis di Indonesia,” kata Ketua IJTI Sultra Asdar Zuula dalam orasinya.

Asdar mengatakan, selama ini jurnalis di berbagai daerah di Indonesia kerap mendapat kekerasan, baik itu verbal, fisik, bahkan pembunuhan. Padahal,  jurnalis bekerja untuk kepentingan publik dan merupakan salah satu pilar demokrasi di Indonesia. “Ketika pers dibungkam, maka demokrasi akan pincangdi negeri ini. Maka itulah pentingnya kita memperjuangkan kebebasan pers,” paparnya.

Koalisi Jurnalis Sultra juga mengatakan, remisi terhadap otak pembunuhan jurnalis Radar Bali, Aa Prabangsa akan membuat para pelaku kekerasan terhadap jurnalis tidak jera. Hal tersebut juga dapat memicu kekerasan terhadap jurnalis terus terjadi.

“Remisi pada pembunuh jurnalis ini mengancam keselamatan pers di Indonesia,” ujar pengunjuk rasa lainnya.

Dalam aksi unjuk rasa damai yang diselingi aksi teaterikal, para jurnalis membuang dan membakar kartu pers sebagai simbol matinya kemerdekaan pers.


Editor : Maria Christina