Kronologi Pemerkosaan dan Pembunuhan Sadis Siswi SMP di Rokan Hilir, 2 Pelaku Sempat Nyabu

Dedi Iswandi ยท Rabu, 09 Oktober 2019 - 20:07 WIB
Kronologi Pemerkosaan dan Pembunuhan Sadis Siswi SMP di Rokan Hilir, 2 Pelaku Sempat Nyabu

Kedua tersangka pembunuhan saat menjalani pemeriksaan di Mapolres Rokan Hilir, Riau, Rabu (9/10/2019). (Foto: iNews/Dedi Iswandi)

ROKAN HILIR, iNews.id – Dua tersangka pemerkosa dan pembunuhan sadis siswi kelas 3 SMP Negeri 4 Sintong, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, sudah merencanakan niat buruknya dengan rapi. Keduanya telah menyurvei lokasi untuk bertemu dengan korban TP (15).

Kronologi kejadian sadis itu diawali dengan rencana kedua tersangka, Harris Fadillah Rangkuti (19) dan temannya Andika, untuk memerkosa korban dan mencuri telepon seluler (ponsel) serta barang berharganya. Di hari kejadian, Sabtu, 19 September 2019 lalu, keduanya terlebih dahulu mengonsumsi sabu-sabu sebelum bertemu korban.

Salah satu tersangka, Harris, lalu memancing korban untuk keluar dari rumahnya. Dia mengiming-ngimingi korban akan mendapat uang Rp200.000 jika mau diajak bertemu di perkebunan karet, yang sebelumnya telah disurvei bersama Andika.

Namun, setelah tiba di tempat perkebunan karet, kedua tersangka langsung menyekap korban dengan menyumpal mulutnya. Keduanya lalu secara bergantian memperkosa korban. Setelah itu, mereka mencekik leher korban, lalu menghantamkan kayu ke kepala korban hingga tewas.

 

BACA JUGA:

Pemerkosa dan Pembunuh Sadis Siswi SMP di Rokan Hilir Riau Ditangkap

Mahasiswi Diperkosa Pelajar SMA 17 Tahun di Palopo hingga Pendarahan Hebat

 

Leher korban diikat dengan celana yang dikenakannya. Korban yang tidak memakai pakaian lengkap lagi, diseret beberapa meter, lalu ditinggalkan begitu saja di kawasan perkebunan karet hingga akhirnya ditemukan warga setempat.

“Kami memang sudah merencanakan memerkosa dan mengambil handphone-nya,” kata tersangka Harris Fadillah Rangkuti di Mapolres Rokan Hilir, Rabu (9/10/2019).

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Rokan Hilir, Riau, AKP Farris Nur Sanjaya mengatakan, kedua tersangka saat diinterogasi sempat berbelit-belit memberikan keterangan. Awalnya mereka sempat mengatakan bahwa kedua menyetubuhi korban atas dasar suka sama suka.

Setelah diperdalam lagi, ternyata kedua tersangka memang sudah berencana untuk memperkosa korban dan menghabisi nyawanya dengan cara yang cukup sadis. Bahkan, para pelaku sudah menyurvei lokasi untuk aksi keji mereka.

“Sebelum melakukan tindakan tersebut, mereka mengonsumsi narkoba. Korban dengan tersangka Haris memang ada hubungan, sudah berteman dekat. Namun saat janjian, di TKP ada juga Andika. Pengakuan pelaku, korban meminta pulang karena ada Andika,” katanya.

Namun, tersangka Harris memaksa korban agar tidak pulang. Tersangka lalu memerkosa korban secara bergantian dengan temannya Andika. Setelah melampiaskan nafsu bejatnya, keduanya bersama-sama membunuh korban dengan cara mencekik dan menghantamkan kayu ke kepala korban.

“Atas perbuatan keduanya, pasal yang kami terapkan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Kedua tersangka sudah berencana terlebih dahulu sebelum melakukan tindakannya. Pelaku juga dikenakan Undang-Undang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya seumur hidup atau hukuman mati,” kata AKP Farris Nur Sanjaya.

Sementara menurut ibu korban, Poniati, anaknya pada malam kejadian tiba-tiba menghilang dari rumah tanpa memberitahu tujuannya. Saat dihubungi melalui ponselnya beberapa kali, anaknya sama sekali tak ada menjawab. Poniati pun curiga sesuatu telah terjadi pada putrinya.

Karena khawatir, dia berencana melapor ke Polres Rokan Hilir. Namun, sebelum sempat melapor, tiba-tiba ada warga yang mengabarkan anaknya TP sudah ditemukan di perkebunan karet. Kondisinya sudah tak bernyawa lagi dan hanya menggunakan separuh busana.

Saat ini, pihak keluarga berharap kedua tersangka diberikan hukuman yang setimpal dan seberat-beratnya. Perbuatan keduanya terbilang sangat sadis dan tak berprikemanusiaan.

“Saya masih syok dan sangat berduka, sangat kehilangan atas kematian anak saya. Kami minta hukumlah pelaku seberat-beratnya karena saya tidak akan bertemu anak saya lagi,” kata Poniati.


Editor : Maria Christina