Masih Trauma, Pengungsi Gempa Asal Petobo di Sigi Enggan Pulang

Antara ยท Jumat, 12 Oktober 2018 - 21:38 WIB
Masih Trauma, Pengungsi Gempa Asal Petobo di Sigi Enggan Pulang

Foto dampak gempa dan likuifaksi di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: Antara)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

SIGI, iNews.id - Korban gempa bumi disertai likuifaksi tanah dari Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang mengungsi di Desa Pombewe, Kabupaten Sigi, masih trauma berat atas musibah yang menimpa mereka. Warga bahkan belum berani kembali ke permukiman yang tertimbun lumpur akibat likuifaksi tanah saat gempa mengguncang wilayah itu.

"Warga saya masih trauma berat. Mereka belum bisa beraktivitas seperti biasa," kata Ketua RT 01/RW 05 Kelurahan Petobo Abdul Naim, di Sigi, Jumat (12/10/2018).

Warga RT 01/RW 05 Kelurahan Petobo yang mengungsi di Desa Pombewe Kecamatan Biromaru berjumlah 68 jiwa atau sekitar 18 kepala keluarga. Warga, kata Naim, sebagian sampai saat ini masih belum berani untuk melihat kondisi permukiman mereka pascagempa mengguncang disertai lumpur.

BACA JUGA:

100 Hunian Sementara untuk Korban Gempa Dibangun di Petobo Palu

Masa Tanggap Darurat Bencana Sulawesi Tengah Diperpanjang 14 Hari

Update Gempa dan Tsunami Sulteng, Korban Meninggal Capai 2.073 Orang


Namun, sebagian dari mereka telah pergi ke lokasi permukiman yang tertimbun lumpur untuk mencari dokumen-dokumen penting. "Iya, ada yang ke lokasi untuk mencari dokumen rumah, ijazah dan sebagainya," ujar dia.

Warga yang saat ini mengungsi, tidak lagi memiliki tempat tinggal. Mereka hanya bertahan di tenda-tenda pengungsian di Desa Pombewe. Sebagian besar warga tidak dapat menyelamatkan berkas atau dokumen penting saat gempa mengguncang di sertai lumpur pada Jumat 28 September 2018.

Saat ini warga tidak lagi memiliki tempat tinggal. Mereka berharap ada bantuan pemerintah untuk kehidupan yang layak bagi mereka. "Kami masih menunggu kabar dari pemerintah. Semoga ada bantuan dari pemerintah," sebut dia.


Editor : Himas Puspito Putra