Nagih Utang, Warga di Kota Manado Malah Dianiaya Oknum Pejabat Pemda

Subhan Sabu ยท Sabtu, 16 Februari 2019 - 03:30 WIB
Nagih Utang, Warga di Kota Manado Malah Dianiaya Oknum Pejabat Pemda

Ilustrasi penganiayaan. (Foto: Okezone).

MANADO, iNews.id - Seorang warga di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) menjadi korban penganiayaan kepala dinas (kadis) pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) pemerintah daerah.

Korban, Alfons Sutedja (37) warga Kelurahan Pakowa Lingkungan VI, Kecamatan Wanea, awalnya bermaksud menagih utang kepada oknum pejabat tersebut. Sebagai kontraktor, dia berniat meminta klarifikasi pembayaran proyek yang telah selesai dikerjakannya.

"Saya sudah menyelesaikan pekerjaan. Tapi tidak pernah ada pembayaran," kata Alfons saat dihubungi wartawan di Kota Manado, Sulut, Jumat (15/2/2019).

Dia menceritakan, kronologi berawal saat dirinya mendatangi Kantor Dinas PUPR, Kamis (14/2/2019). Ada 3 proyek yang dikerjakannya sejak Oktober 2018 lalu, namun pihaknya belum menerima pembayaran jasa atas pekerjaan tersebut.

Setelah 10 menit berada di dalam ruangan tunggu, oknum kadis tersebut pun mendatanginya. Bukannya memberi kejelasan soal pembayaran tersebut, kadis tersebut malah memberi sambutan tak pantas.

"Dia mendekati saya dan bersuara keras, 'Mau apa kamu'," ujar korban menirukan perkataan Kadis PUPR.

Tidak berhenti sampai di situ, saat dirinya berdiri untuk memberi salam, oknum kadis tersebut langsung melayangkan pukulan ke wajahnya. Mirisnya, bukan cuma satu kali, tapi tiga kali hantaman itu dia dapat.

"Ada tiga pukulan di pipi dan pelipis kanan. Kaca mata saya sampai jatuh dan pecah," ujar dia.

Usai memukul, oknum kadis tersebut langsung memerintahkan Satpol PP untuk menggiring korban keluar dari kantor. Mendapat perlakuan tersebut, Alfons pun melaporkan dugaan penganiayaan ini ke Mapolresta Manado.

Saat dikonfirmasi Kapolresta Manado, Kombes Pol Benny Bawensel, membenarkan adanya dugaan kasus penganiayaan yang dilakukan oknum Kadis PUPR. Kini polisi sedang menyelidiki laporan tersebut.

"Benar laporannya ada, dan sedang diproses oleh penyidik," kata Bawensel.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal