PK Ditolak MA, Baiq Nuril: Harapan Saya Satu-satunya Kini Hanya Bapak Presiden

Harikasidi · Jumat, 05 Juli 2019 - 15:24 WIB
PK Ditolak MA, Baiq Nuril: Harapan Saya Satu-satunya Kini Hanya Bapak Presiden

Baiq Nuril Maknun menangis setelah mengetahui PK yang diajukannya ditolak oleh MA, di Kota Mataram, NTB, Jumat (5/7/2019). MA memutuskan Baiq bersalah melanggar UU ITE. (Foto: iNews/Harikasidi)

MATARAM, iNews.id – Putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak peninjauan kembali (PK) atas kasusnya membuat Baiq Nuril Maknun bersedih. Kini, warga Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu tinggal menggantungkan harapannya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mendapat keadilan. Dia segera mengajukan amnesti.

Ditemui di Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Kota Mataram, Baiq Nuril Maknun beberapa kali menangis setelah mengetahui putusan MA tersebut, Jumat (5/7/2019). Baiq Nuril mengaku kecewa menerima putusan tersebut karena dia merasa dirinya lah yang menjadi korban. Dia merasa mendapat pelecehan seksual dari Muslim, mantan kepala sekolah SMA di Kota Mataram, tempatnya bekerja.

Tak sesuai dengan harapannya, dia tetap divonis bersalah dalam kasus dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). MA memvonis hukuman enam bulan penjara dalam kasus itu karena dia dinilai terbukti menyebarkan konten asusila, sesuai putusan kasasi MA yang menghukum Baiq Nuril.

“Ya, saya harus terima. Bagaimana pun kan ini langkah hukum terakhir yang saya tempuh. Jadinya, ya saya harus berlapang dada, harus menerima dengan ikhlas karena hukum yang tertinggi di Indonesia sudah memutuskan kalau PK saya ditolak. Ya, saya harus jalani dengan ikhlas. Hanya itu saja,” kata Baiq Nuril.

BACA JUGA:

PK Ditolak MA, Baiq Nuril Tetap Dihukum Kasus Rekaman Percakapan Mesum Kepsek

10 Fakta Kasus Baiq Nuril, Dari Vonis MA hingga Penundaan Eksekusi

Baiq Nuril mengatakan, vonis MA tersebut sesuai dengan tuntutan awal jaksa penuntut umum (JPU). “Vonisnya itu seperti tuntutan awal dari yang enam bulan,” ujarnya.

Meski ikhlas, ternyata Baiq masih menyimpan harapan untuk mendapatkan keadilan dalam kasus yang menimpanya. Dia akan mengajukan amnesti kepada Presiden Jokowi.

“Ya, harapan satu-satunya kini hanya ke Bapak Presiden. Saya ingin mengajukan amnesti. Mudah-mudahan diberikan pengampunan,” ujarnya.

BACA JUGA:

PBNU Prihatin Mahkamah Agung Tolak PK Baiq Nuril

Baiq Nuril Resmi Laporkan Muslim ke Polisi Terkait Pelecehan Seksual

Baiq menegaskan, pengampunan yang akan dia ajukan kepada Presiden, bukan berarti dia merasa bersalah dalam kasus itu.

“Tapi pengampunan itu, bukan istilahnya saya mengakui kesalahan saya. Memang iya, saya bersalah merekam, hanya itu saja, tapi yang menyebarkan kan orang lain,” katanya.

Perkara yang menjerat Baiq Nuril Maknun atas kasus pelecehan seksual oleh oknum mantan kepsek di Kota Mataram sebelumnya mengundang empati dari berbagai kalangan. Banyak yang memberikan dukungan moril terhadap korban. Namun dalam perjalanan proses hukum, putusan pengadilan menghukumnya bersalah.

Diketahui MA memutuskan untuk menolak PK yang diajukan Baiq Nuril dalam kasus dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Juru Bicara (Jubir) MA, Andi Samsan Nganro menyampaikan, putusan tersebut diputus atas pertimbangan ketua majelis PK, hakim Suhadi, yang didampingi dua hakim anggota yakni Margono dan Desnayeti.

“Alasan permohonan PK Pemohon yang mendalilkan bahwa dalam putusan judex yuris/MA dalam tingkat kasasi mengandung muatan kekhilafan hakim atau kekeliruan yang nyata tidak dapat dibenarkan, karena putusan judex yuris tersebut sudah tepat dan benar dalam pertimbangan hukumnya,” ujarnya.

Dalam perkara tersebut, Baiq Nuril merekam pembicaraan via ponsel antara dia dan Muslim, mantan kepsek SMAN 7 Mataram NTB, tempat Baiq bekerja, sekitar 1 tahun yang lalu. Hasil rekaman itu disimpan oleh Baiq. Kemudian, barang bukti hasil rekaman diserahkan Baiq kepada saksi Imam Mudawin. Lalu, Imam Mudawin memindahkan rekaman suara itu ke laptopnya hingga akhirnya tersebar luas.


Editor : Maria Christina