Setelah Pungli Jenazah, Muncul Posko Fiktif Tsunami di Pandeglang

Iskandar Nasution, Antara ยท Selasa, 01 Januari 2019 - 17:26 WIB
Setelah Pungli Jenazah, Muncul Posko Fiktif Tsunami di Pandeglang

Warga bersama relawan menurunkan bantuan yang tiba untuk pengungsi tsunami di Labuan, Pandeglang, Banten (26/12/2018). Polres Pandeglang menyelidiki adanya posko fiktif yang didirkan warga untuk mencari keuntungan pribadi. (Foto: Antara/Akbar Nugroho

PANDEGLANG, iNews.id – Setelah kasus dugaan pungutan liar (pungli) jenazah korban tsunami di RSUD Serang, kini muncul posko fiktif yang didirikan oleh oknum warga tak terdampak tsunami Selat Sunda. Posko fiktif itu diduga bertujuan mendapat bantuan untuk kepentingan pribadi.

Kapolpres Pandeglang, AKBP Indra Lutrianto Amstono mengatakan, jajarannya akan mendata ulang posko bencana di lokasi yang terdampak tsunami Selat Sunda agar mengetahui penyaluran bantuan tersebut.

"Saya menerima laporan dari warga yang mengeluhkan adanya oknum warga yang memanfaatkan kebaikan dermawan untuk kepentingan pribadi," katanya, Selasa (1/1/2018).

Kapolres mengaku belum bisa menyimpulkan terkait dengan hasil penyelidikan posko fiktif itu. Sebab masih melakukan pencarian fakta di lapangan untuk menentukan ada tidaknya perbuatan tindak pidana.

"Nanti dilihat apa dia bisa masuk ke tindak pidana atau tidak. Polisi akan pelajar apakah itu memungkinkan untuk masuk dalam penggelapan. Polisi masih cari faktanya," ujarnya.

BACA JUGA:

Tangani Kasus Pungli Jenazah Tsunami, Polda Janji Rilis Tersangka

Polda Banten Tetapkan 3 Tersangka dalam Kasus Pungli Korban Tsunami

Dugaan Pungli Korban Tsunami, Ini Penjelasan Manajemen Rumah Sakit

Selain melakukan penyelidikan terhadap posko fiktif, mantan Kapolres Soppeng itu juga meminta warga tidak melakukan penggalangan dana di pinggir-pinggir jalan karena akan mengganggu lalu lintas.

"Saat ini volume kendaraan naik karena banyak kendaraan dermawan yang mengirim bantuan untuk para korban. Jadi, warga jangan melakukan penggalangan dana karena menggangu lalu lintas," ujarnya.

Polda Banten sebelumnya sudah menahan tiga orang tersangka dugaan kasus pungutan liar (pungli) pengurusan jenazah korban tsunami Selat Sunda. Pungutan tersebut mencuat setelah kerabat korban bernama Leo Manullang diminta membayar biaya jenazah oleh pihak rumah sakit. Kerabat Leo merupakan korban terjangan tsunami di Pantai Carita, Labuan, Pandeglang, Banten.

Leo mengeluhkan permintaan uang sebesar Rp3,9 juta. Duit tersebut untuk biaya penanganan jenazah hingga proses transportasi jenazah ke rumah duka di Klender, Jakarta Timur.

Kepala Bagian Pengawas dan Penyidik (Wasidik) Direktorat Reskrimum Polda Banten, AKBP Dadang Herli Saputra mengatakan, penahanan ini dilakukan untuk mempermudah proses penyidikan polisi.

 


Editor : Kastolani Marzuki