Siswa SD di Lombok Barat Jadi Korban Penyekapan dan Penganiayaan Gurunya

Harikasidi ยท Senin, 27 Mei 2019 - 14:57 WIB
Siswa SD di Lombok Barat Jadi Korban Penyekapan dan Penganiayaan Gurunya

Saenah menunjukkan bukti laporan pengaduannya ke Mapolres Gresik, terhadap oknum guru yang diduga menganiaya anaknya di Mataram, NTB, Senin (27/5/2019). (Foto: iNews/Harikasidi)

MATARAM, iNews.id – Seorang siswa kelas 5 Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaku menjadi korban penyekapan dan penganiayaan gurunya. Korban diduga mengeluarkan kata-kata ejekan saat melintas di depan rumah guru tersebut. Orang tua korban akhirnya melaporkan kasus itu ke polisi.

Siswa berinisial AR yang ditemui di rumahnya, Dusun Tegal, Desa Jagaraga, Kecamatan Kuripan, mengatakan, meski peristiwa penyekapan dan penganiayaan tersebut terjadi hampir sepekan lalu, dia masih merasakan sakit dan trauma.

AR mengatakan, kejadian itu berawal saat dia bersama lima orang teman sekolah melintas di depan rumah gurunya, Selasa, 21 Mei 2019 lalu. Sang guru berinisial F menuduh korban mengeluarkan kata-kata ejekan mengenai ibunya.


BACA JUGA: Guru di Garut Ditangkap akibat Sebar Ajakan Pengeboman di Jakarta 22 Mei


Oknum guru berinisial F itu kemudian mengejar AR. Dia lalu membawa AR dengan sepeda motor, lalu menyekapnya di ruang tamu. Di sana, AR mengaku dianiaya oleh pelaku F. Selain dicekik, korban dilempar dan diancam akan dibunuh jika menceritakan kejadian yang dialaminya.

“Saya dikejar F, lalu ditangkap dan dinaikkan ke sepeda motor dan disekap diruang tamu. Saya lalu di lempar dan dicekik. Dia mengancam akan membunuh saya kalau menceritakan kejadian tersebut,” kata AR, Senin (27/5/2019).

Korban AR juga membenarkan saat melintas dari depan rumah gurunya, ada yang mengeluarkan kata-kata ejekan mengenai ibu sang guru. Namun, menurut AR, bukan dia yang mengatakannya, tapi teman-temannya.


BACA JUGA: Siswa SMP Aniaya Guru dengan Kursi dan Lemparkan Ponsel ke Wajahnya


AR kemudian menceritakan kejadian yang dia alami kepada orang tuanya. Tidak terima dengan perlakuan kasar dari oknum guru F, orang tua korban akhirnya melaporkan kasus dugaan penganiyaan tersebut ke Mapolsek Kediri.

“Saya mau pelaku segera ditangkap polisi dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sebagai ibu, saya merasa sakit hati anak saya diperlakukan seperti itu oleh gurunya,” kata ibu korban, Saenah.

Terpisah, oknum guru F yang diduga menjadi pelaku penyekapan dan penganiayaan tehadap korban AR yang berusaha ditemui di rumahnya, belum bersedia memberikan tanggapan.

Kasus ini telah mendapatkan perhatian khusus dari Komisi Perlindungan Anak (KPI) NTB. Mereka mengagendakan akan mendatangi Mapolsek Kediri untuk mempertanyakan penanganan kasus tersebut.


Editor : Maria Christina