Siswi SD Korban Tsunami Pandeglang Menangis Tak Kebagian Buku Bantuan

Iskandar Nasution ยท Jumat, 11 Januari 2019 - 11:09 WIB
Siswi SD Korban Tsunami Pandeglang Menangis Tak Kebagian Buku Bantuan

Tak hanya siswa SD, kalangan dewasa juga turut berebut bantuan peralatan sekolah dan seragam di Desa Teluk, Pandeglang. (Foto: iNews/Iskandar Nasution)

PANDEGLANG, iNews.id – Ratusan siswa sekolah dasar (SD) di Desa Teluk, Labuan, Pandeglang, Banten, berdesakan untuk saling berebut bantuan buku dan peralatan tulis. Beberapa bahkan menangis lantaran tidak kebagian paket bantuan tersebut. Mereka merupakan para korban bencana tsunami Selat Sunda yang menerjang 22 Desember 2019 silam.

Pantauan iNews, begitu mobil pengangkut bantuan peralatan sekolah tiba di Desa Teluk. Para siswa SD, hingga kalangan orang dewasa langsung berkerumun untuk mengantre bantuan tersebut. Mereka saling berebut dan bergencetan hingga beberapa di antaranya tidak kebagian.

Salah satu di antaranya Maulidatul Auliyah (10), siswi kelas V ini hanya bisa menangis dan pasrah. Dia kalah tenaga dengan teman pria dan para orang tua saat berebut bantuan peralatan sekolah. Tubuhnya yang kecil tak mampu berbuat banyak saat berada dalam kerumunan ratusan warga lainnya.

Tak hanya dirinya, sang Nenek Surinah juga tak bisa membantu mendapat bantuan untuk cucunya tersebut. Fisiknya yang renta membuatnya kalah gesit dengan warga lain saat rebutan bantuan.

BACA JUGA: Bantuan Tak Tepat Sasaran, Bupati Pandeglang: Banyak Pengungsi Bodong

“Itu bantuan peralatan tulis dan seragam. Kami tergencet dan terdorong ke belakang hingga tak kebagian bantuan karena sudah habis saling berebut,” ujar Surinah, Jumat (11/1/2019).

Dia menuturkan, cucunya Maulida kini menjadi anak yatim. Orang tuanya turut jadi korban meninggal dalam bencana tsunami akhir Desember silam.

Diketahui, sejak diterjang tsunami, rumah-rumah warga hanyut tersapu gelombang tinggi. Seluruh isi rumah termasuk perlengkapan sekolah anak-anak hilang tak tersisa. Bantuan yang datang hanya berkutat pada makanan, minuman dan pakaian bekas. Namun seragam sekolah dan peralatan tulis masih sangat minim.

Sejak dicabutnya masa tanggap darurat, nyaris tak ada lagi petugas yang menolong para korban tsunami. Saat ini setiap datangnya bantuan, para warga langsung memburu dan saling berebut untuk mendapatkannya.


Editor : Donald Karouw