Sore Ini, Evakuasi Korban Gempa dan Tsunami Sulteng Diakhiri

Antara, Ilma De Sabrini ยท Kamis, 11 Oktober 2018 - 12:08 WIB
Sore Ini, Evakuasi Korban Gempa dan Tsunami Sulteng Diakhiri

Sejumlah kendaraan rusak akibat gempa dan likuifaksi di Kelurahan Petobo, Palu, Sulteng, Rabu (10/10/2018). Selain mengakibatkan korban jiwa, gempa dilanjut dengan likuifaksi menghancurkan harta benda korban. (Foto: Antara)

PALU, iNews.id – Proses pencarian dan evakuasi korban gempa bumi dan tsunami di sejumlah daerah di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) akan diakhir Kamis sore ini (11/10/2018). Evakuasi tersebut baik untuk di Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan di Kota Palu.

Informasi dari Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Sulawesi Tengah, hingga kini, korban yang berhasil dievakuasi sebanyak 2.065 jenazah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 924 jenazah telah dimakamkan di pemakaman massal di Paboya, 35 jenazah di pekuburan massal di Pantoloan, 35 jenazah di pemakaman massal di Donggala, dan 1.071 jenazah telah dimakamkan oleh keluarga masing-masing.

Selama evakuasi, terdapat korban luka-luka sebanyak 4.612 orang, korban hilang sesuai laporan keluarga sebanyak 680 orang, dan korban tertimbun sebanyak 152 orang.

BACA JUGA:

Hari Terakhir Pencarian Korban Gempa Akan Ditutup dengan Doa Bersama

Program Kirim Gratis Berakhir, BPBD Baubau Setop Bantuan Gempa Palu

Kogasgabpad juga memaparkan, masih banyak korban belum dapat dievakuasi dan kecil kemungkinannya masih hidup karena sudah 12 hari setelah gempa. Apalagi jika korban itu di permukiman padat penduduk di Kelurahan Balaroa,Kecamatan Palu Barat,, di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan di Kota Palu, dan di Desa Jono Oge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Bila ditanya seberapa banyak korban gempa yang belum dapat dievakuasi dari tiga lokasi padat penduduk itu. Patut diduga dalam bilangan ribuan orang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik terbaru 5 Juli 2017, seluruh enam kelurahan di Kecamatan Palu Barat rata-rata penduduknya 9.915 orang. Sementara dari lima kelurahan di Palu Selatan rata-rata berpenduduk 13.424 orang. Belum lagi ditambah penduduk di Desa Jono Oge yang juga dalam bilangan ribuan.

Penduduk dari tiga lokasi bencana, banyak penduduk saat gempa sedang berada di rumah atau masjid karena berbarengan dengan waktu Salat Maghrib sehingga terjebak dalam tanah yang bergolak dan bergerak serta mengeluarkan air bercampur lumpur dari dalam tanah.

Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Basarnas Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryo juga menyampaikan, Basarnas sepenuhnya mengakhiri operasi evakuasi korban meninggal pada Kamis sore ini. Pihaknya akan menyerahkan tugas kepada Basarnas wilayah Kota Palu.

“Kami tetap menyiapsiagakan personel Basarnas dari Kantor Palu untuk melakukan asistensi. Bila mendapatkan laporan (korban) dari masyarakat, mereka akan melakukan evakuasi,” katanya.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho sebelumnya juga memastikan masa status tanggap darurat gempa dan tsunami Sulteng akan berakhir pada hari ke-14 atau hari ini, Kamis (11/10/2018). Evakuasi dan pencarian korban akan dihentikan, namun bantuan terhadap para pengungsi masih tetap berjalan.

Rencananya, penghentian pencarian korban tersebut akan ditutup secara resmi oleh Gubernur Sulteng Longki Djanggola dan rangkaina dengan kegiatan doa bersama di tiga wilayah yang terdampak likuifaksi, yakni Petobo, Jono Oge dan Balaroa.

“Para korban selamat akan melaksanakan doa bersama. Mendoakan masyarakat, keluarga, dan kerabatnya yang korban gempa. Kalau melihat rencananya, akan digelar di Petobo, Balaroa dan Jono Oge. Jamnya belum tahu,” kata Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (10/10/2018).


Editor : Maria Christina