Takut Tsunami Susulan, Warga Anyer Mengungsi ke Dataran Tinggi

Wimsalim ยท Minggu, 23 Desember 2018 - 18:58 WIB
Takut Tsunami Susulan, Warga Anyer Mengungsi ke Dataran Tinggi

Warga kawasan Pantai Anyer, Pandeglang, Banten memilih mengungsi ke gunung atau tempat yang lebih tinggi menghindari ancaman tsunami susulan. (FotoL iNews.id/Wimsalim)

PANDEGLANG, iNews.id - Warga di pesisir Anyer, Pandeglang, Banten berbondong-bondong mengungsi untuk mencari tempat yang lebih tinggi. Mereka khawatir terjadi tsunami susulan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Pantauan iNews, hujan deras yang mengguyur kawasan Anyer tak menyurutkan warga untuk mengungsi ke tempatyang lebih aman. Sambil mengendarai sepeda motor dan sebagian menggunakan mobil bak terbuka mereka memilih lokasi yang lebih tinggi.

Seorang warga Anyer, Mayla menuturkan, warga di pesisir Anyer sebagian besar sudah mengungsi ke gunung atau dataran tinggi lainnya karena ada kabar tsunami susulan.

“Ada tsunami di Marbela. Saya tahu dari adik saya terus minta warga untuk pergi ke gunung. Sudah banyak warga yang ke gunung,” katanya, Minggu (23/12/2018).

Mayla mengaku seluruh anggota keluarganya sudah diungsikan ke tempat yang lebih aman dengan membawa perbekalan seadanya. “Sudah (keluarga) mengungsi semua. Saya bawa seadanya saja terutama pakaian,” ucapnya.

BACA JUGA:

2.500 Warga Teluk Betung Mengungsi di Kantor Pemprov Lampung

Video Kepanikan Pasien Puskesmas saat Alarm Tsunami Berbunyi

Sirine Tsunami Berbunyi, Warga dan Pasien Puskesmas Dievakuasi Paksa

Meski demikian, beberapa warga masih memilih bertahan di rumah mereka karena mengaku kondisi saat ini masih dalam keadaan aman. Mereka tidak mengungsi dengan alasan rumahnya berada di dataran tinggi. “Tidak (ngungsi), karena di sini kan sudah dataran tinggi. Saya ngungsi kalau ada tanda-tanda bahaya. Ini kan belum ada, gempa juga tidak ada,” ujar Yeyen.

Dari hasil pantauan di sekitar Pantai Wisata Anyer, kondisi gelombang laut saat ini sudah surut. Namun, angin berembus sangat kencang dan hujan deras masih mengguyur daerah tersebut.


Editor : Kastolani Marzuki