Viral Video Tanah Longsor Mirip Likuefaksi di Tana Tidung Kaltara, Ini Penjelasan BNPB

Antara, Ilma De Sabrini · Selasa, 05 November 2019 - 09:55 WIB
Viral Video Tanah Longsor Mirip Likuefaksi di Tana Tidung Kaltara, Ini Penjelasan BNPB

Detik-detik pergerakan tanah longsor mirip likuefaksi di lokasi pertambangan di Kabupaten Tanah Tidung, Kaltara. Video ini viral hingga Rabu (30/10/2019). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id – Video tanah longsor di wilayah Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara (Kaltara), yang mirip dengan fenomena likuefaksi atau pencairan tanah, baru-baru ini viral di media sosial. Dalam video viral berdurasi 0,21 detik itu, sejumlah alat berat di sekitar lokasi tambang, langsung tertimbun.

Menyikapi video viral itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan, patahan akibat pergerakan tanah yang terjadi di lahan usaha milik PT Pipit Mutiara Jaya site Bebatu di Kabupaten Tana Tidung, pada Selasa (29/10/2019) itu, bukan fenomena likuefaksi.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengatakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltara bersama tim dari PT Pipit Mutiara Jaya telah melakukan peninjauan lapangan atas peristiwa patahan akibat pergerakan tanah, pada Sabtu (2/11/2019).

“Peninjauan lapangan tersebut merupakan tindak lanjut dari laporan peristiwa tanah longsor yang sempat diduga merupakan fenomena likuefaksi,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (5/11/2019).

 

BACA JUGA: Viral Tanah Longsor Mirip Likuefaksi di Tana Tidung Kaltara, 6 Alat Berat Tertimbun 

 

Hasil peninjauan tersebut kemudian dipadukan dengan hasil investigasi dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kaltara, Dinas Lingkungan Hidup Kaltara dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tana Tidung. “Akhirnya disimpulkan bahwa kejadian itu bukan merupakan likuefaksi seperti yang sempat beredar luas,” ujarnya.

Dia mengimbau agar pekerja dan masyarakat setempat tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Salah satunya, isu pergerakan tanah yang terjadi merupakan likuefaksi atau pencairan tanah, sebagaimana pernah terjadi di Palu dan sekitarnya setelah bencana gempa dan tsunami.

“Kami juga mengharapkan dinas terkait dapat meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan kuasa penguasaan di wilayah kerja masing-masing,” kata Agus.

Agus juga mengatakan kejadian tanah longsor di area tambang tersebut tidak menyebabkan korban jiwa. Namun, ada enam unit alat berat dilaporkan tertimbun. Tiga ekskavator yang sebelumnya tertimbun tanah sudah berhasil dievakuasi.


Editor : Maria Christina