Warga 4 Desa di Timor Tengah Utara NTT Keracunan Massal setelah Makan Daging Sapi Mati

Sefnat Besie ยท Jumat, 18 Oktober 2019 - 17:14 WIB
Warga 4 Desa di Timor Tengah Utara NTT Keracunan Massal setelah Makan Daging Sapi Mati

Korban keracunan massal dirawat di Puskesmas Biboki Utara, Timor Tengah Utara. Mereka mengalami mual dan mencret seusai menyantap daging sapi yang mati. (Foto: iNews.id/Sefnat Besie)

TIMOR TENGAH UTARA, iNews.id – Puluhan warga dari empat desa di Kecamatan Biboki Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) keracunan massal seusai menyantap daging sapi yang sudah mati, Jumat (18/10/2019).

Mereka mengalami keracunan dengan gejala awal pusing kepala, perut mual hingga muntah-muntah. Kondisi sebagain korban keracunan ini sudah parah dan sekarat sehingga harus dijemput pihak puskesmas untuk mendapat perawatan medis.

Kepala Puskesmas Manufui, Simon Luan Asa mengatakan, total ada 49 warga dari empat desa yang keracunan seusai mengonsumsi daging sapi yang sudah mati. Mereka di antaranya dari Desa Biloe, Hauteas, Taunbaen Timur dan Sapaen.

“Ya, totalnya ada 49 orang dari empat desa yang keracunan setelah menyantap daging sapi yang sudah mati. Kami harus menjemput satu per satu warga dari rumah mereka karena kondisinya rata-rata sudah parah,” katanya.

BACA JUGA: Warga Desa Oesena Kefamenanu di NTT Jadikan Mortir sebagai Pajangan Dalam Rumah

Banyaknya pasien usai dijemput membuat pihak puskesmas kewalahan tempat tidur, sehingga sebagain pasien terpaksa harus dirawat di lorong maupun tempat yang memadai.

Korban keracunan, Anjelika Muti mengaku mendapat pembagian daging sapi dari tetangganya. Daging sapi itu selanjutnya dimasak dan dimakan bersama keluarganya. “Setelah saya makan bersama keluarga, kami mengalami sakit perut hingga mencret,” katanya.

Hingga kini, puluhan korban keracunan menjalani perawatan intensif. Dari 49 pasien tersebut, tujuh orang di antaranya masih berusia anak-anak.

BACA JUGA: Puluhan Warga di Majalengka Keracunan usai Sarapan

Pihak puskesmas akan terus melakukan perawatan, namun bila kondisi pasien makin memburuk akan dilakukan rujukan ke rumah sakit yang lebih memadai.


Editor : Kastolani Marzuki