Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Gowa, 2.129 Warga Mengungsi

Antara ยท Rabu, 23 Januari 2019 - 11:49 WIB
Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Gowa, 2.129 Warga Mengungsi

Warga berusaha menyelamatkan sebuah rumah yang akan terbawa arus aliran Sungai Jeneberang yang meluap di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (22/1/2019). (Foto: Antara/Abriawan Abhe)

GOWA, iNews.id  - Jumlah pengungsi akibat bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) terus bertambah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa memperbaharui data korban banjir yang telah mengungsi ke beberapa tempat sejumlah 2.121 jiwa, hingga Rabu (23/1/2019).

"Data yang baru kami terima dari anggota di lapangan total pengungsi yang terdata di beberapa titik itu sudah 2.121 orang," ujar Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan di Gowa.

Dia mengatakan, pengungsi korban banjir tersebar di 13 titik, yakni Mesjid Baiatul Jihad Tompobalang 70 jiwa, Kelurahan Samata 200 jiwa, Masjid Mangngalli 200 jiwa dan Puskesmas Pallangga 21 jiwa.

Selain itu di Kantor camat Pallangga 56 jiwa, BTN Pallangga Mas 33 jiwa, Puskesmas Kampili 6 jiwa, Mesjid Nurul Iman Yabani Bonto Ramba, Somba Opu 94 jiwa. Ada juga warga yang mengungsi di Pasar Sungguminasa 600 Jiwa, Gardu Induk PLN Sungguminasa 40 jiwa, Pandang-pandang 120 Jiwa, Bukit Tamarunang 160 jiwa serta Kompleks RPH Tamarunang 521 Jiwa.

Adnan menuturkan, semua pengungsi korban banjir ini sudah ditangani oleh tim penanggulangan bersama yang terdiri dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) di dalamnya.


BACA JUGA:

6 Meninggal Dunia akibat Banjir dan Longsor di Gowa, Ini Identitasnya

Banjir Setinggi 2 Meter, 500 Lebih Warga Gowa Mengungsi di Masjid


"Pertama yang kami lakukan untuk memastikan keselamatan warga. Kemudian kami bawa ke titik pengungsian. Mereka juga telah mendapat pelayanan pemeriksaan kesehatannya dan telah dibuatkan dapur umum," tuturnya.

Dalam musibah bencana alam itu, sebanyak enam orang warga juga dilaporkan telah meninggal dunia saat banjir dan longsor terjadi akibat dari meluapnya air Sungai Jeneberang di Bendungan Bili-Bili.

Baik korban meninggal karena tersengat listrik, maupun karena tertimbun longsoran. Keenam korban meninggal yakni, bocah Akram Al Yusran (3), warga Pangkabinanga, Rizal Lisantrio (48) warga BTN Batara Mawang karena tersengat listrik, Sarifuddin Dg Baji, serta seorang bayi yang belum teridentifikasi. Kemudian dua korban longsor lainnya juga belum teridentifikasi.

Selain enam korban meninggal karena banjir, empat warga lainnya juga dinyatakan mengalami luka-luka serta 10 orang lainnya hilang atau belum ditemukan oleh pihak keluarganya masing-masing. Adnan menambahkan, dalam musibah itu, empat jembatan penghubung dinyatakan terputus, satu di antaranya yakni Jembatan Bongaya.


Editor : Donald Karouw