Dituduh Curi Kotak Amal, Mahasiswa UIT Makassar Tewas Dianiaya Warga

Bugma ยท Senin, 10 Desember 2018 - 21:12 WIB
Dituduh Curi Kotak Amal, Mahasiswa UIT Makassar Tewas Dianiaya Warga

Petugas Satreskrim Polres Gowa mengolah TKP di Masjid Nurul Yasin Jatia pascapembunuhan terhadap mahasiswa UIT Makassar di masjid tersebut. (Foto: iNews.id/Bugma)

GOWA, iNews.id – Muhamamd Khaidir (23), mahasiswa Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar tewas dianiaya warga di dalam Masjid Nurul Yasin Jatia, Kelurahan Mata Allo Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Senin (10/12/2018).

Peristiwa tragis itu dipicu hanya karena korban dituduh hendak mencuri kotak amal masjid. Tanpa belas kasihan, warga menghujani korban dengan tikaman senjata tajam dan sabetan hingga meregang nyawa.

Saat ini, jenazah korban sudah dievakuasi polisi ke ruang jenazah Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, Makassar, Sulawesi Selatan.

Informasi di lokasi kejadian, aksi brutal warga yang menganiaya hingga menewaskan Muhammad Khaidir bermula saat ada salah seorang warga melihat korban berada di dalam masjid. Tanpa menanyakan ke korban, warga yang belum diketahui identitasnya itu berteriak maling. Teriakan korban mengundang perhatian warga lainnya hingga mereka berdatangan ke masjid. Sejurus kemudian, warga langsung menganiaya korban.

BACA JUGA:

Mengaku Dengar Bisikan Gaib, Sholihin Bunuh Anaknya yang Masih 3 Tahun

Pensiunan TNI Dibunuh Cucunya Lantaran Tak Berikan Ongkos Angkot

Wakil Kepala Polres (Wakapolres) Gowa, Kompol Muhammad Fajri mengatakan, setelah menerima laporan penganiayaan tersebut polisi langsung meluncur ke lokasi dan mengolah tempat kejadian (TKP) di dalam masjid.

“Untuk memastikan motif penganiayaan, sementara ini Masjid Nurul Yasin Jatia dipasangi garis polisi. Tim Unit Identifikasi Polres Gowa juga sudah mengamankan sejumlah pecahan kaca serta kotak amal masjid sebagai barang bukti,” katanya.

Untuk kepentingan penyelidikan, kata Wakapolres, jasad korban rencananya diautopsi di RS Bhayangkara. Polisi juga akan memeriksa sejumlah saksi mata untuk mengetahui motif penganiayaan.


Editor : Kastolani Marzuki