Jenazah ACT Airnav Anthonius yang Meninggal saat Gempa Dikebumikan

Antara ยท Senin, 01 Oktober 2018 - 16:54 WIB
Jenazah ACT Airnav Anthonius yang Meninggal saat Gempa Dikebumikan

Personel pengatur lalu lintas udara (ATC) AirNav Indonesia Cabang Palu, Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie, Anthonius Gunawan Agung. (Foto: Istimewa)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

MAKASSAR, iNews.id – Seratusan taruna Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) bersama pegawai Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav) memberikan penghormatan terakhir kepada Anthonius Gunawan Agung sebelum dikebumikan.

“Saya mewakili keluarga besar Anthonius Gunawan Agung mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang hadir untuk mendoakan kepergian ananda Anthonius,” kata paman korban, Sambas di rumah duka Jalan Onta Baru Makassar, Senin (1/10/2018).

Pada prosesi sebelum dibawa ke pekuburan di wilayah Antang Makassar, jenazah pemandu lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC) Anthonius disemayamkan di Gereja Katolik Mamajang, tepat di depan rumah kerabat korban.

BACA JUGA:

Airnav Naikkan Pangkat Petugas ATC yang Meninggal saat Gempa di Palu

Lompat dari Tower, Petugas ATC AirNav Tewas saat Gempa di Palu

Selama hampir dua jam berada di gereja, anggota keluarga masih tidak dapat menahan kesedihannya saat misa pemberkatan jenazah. Kedua orang tuanya yang sejak beberapa hari tiba dari Papua, terlihat mengingat masa-masa kebiasaan yang dilakukan anaknya tersebut sembari memeluk peti jenazah Anthonius.

“Maafkan ibu nak, saya sudah tidak bisa garuk-garuk lagi nak,” ucap ibu Anthonius yang terus berada di sisi peti jenazah anaknya.

Sebelumnya, Jumat (28/9) Anthonius mempertaruhkan nyawanya untuk memandu pilot Batik Air ID 6231 yang akan terbang dari Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie menuju Makassar. Saat gempa terjadi, personel AirNav lain yang tidak sedang melayani, kemudian turun. Namun, Anthonius belum dapat turun karena pesawat belum tinggal landas.

Anthonius yang lahir di Abepura pada 24 Oktober 1996 itu menunggu pesawat Batik hingga terbang penuh. Setelah pesawat dalam kondisi terbang penuh, dampak gempa sudah semakin kuat. Dia memutuskan melompat dari cabin tower (lantai empat) sehingga kakinya patah.

Personel AirNav di Palu kemudian membawanya ke rumah sakit, yang kemudian merujuknya ke rumah sakit yang lebih besar karena ada indikasi luka dalam. AirNav berupaya untuk mendatangkan helikopter dari Balikpapan untuk membawa Agung ke rumah sakit yang lebih besar. Namun karena kondisi bandara, helikopter baru dapat diterbangkan keesokan paginya.

Agung rencananya dibawa ke bandara untuk diterbangkan dengan helikopter menuju Balikpapan. Namun sebelum helikopter tiba, dia sudah meninggal dunia.


Editor : Maria Christina