Sebar Hoaks Penculikan Anak di Medsos, Mahasiswi di Makassar Ditangkap

Wahyu Ruslan ยท Selasa, 06 November 2018 - 19:25 WIB
Sebar Hoaks Penculikan Anak di Medsos, Mahasiswi di Makassar Ditangkap

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani menunjukkan salah satu postingan hoaks penculikan anak. (Foto: iNews/Wahyu Ruslan)

MAKASSAR, iNews.id – Berita bohong alias hoaks tentang penculikan anak beredar masif di media sosial belakangan ini. Kabar bohong itu pun memicu keresahan publik. Di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), polisi bergerak cepat dan menangkap dua pelaku penyebar berita hoaks tersebut.

Informasi yang dirangum iNews, kedua pelaku ditangkap di dua lokasi berbeda. Salah satunya merupakan seorang perempuan muda yang masih berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi. Keduanya saat ini menjalani pemeriksaan penyidik dengan status saksi. Jika terbukti bersalah, mereka bisa naik status menjadi tersangka dan terancam pidana dua tahun penjara.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, pelaku pertama berinisial NW, seorang mahasiswi yang diamankan di rumahnya Jalan Tinumbu, Kecamatan Bontoa, Makassar, Sulsel. Dia diduga mengunggah berita hoaks penculikan anak serta penjualan organ tubuh manusia di pasar gelap pada 21 Maret 2018. Postingan itu kemudian dia sebarluaskan hingga menimbulkan keresahan publik.


BACA JUGA:

Daftar Hoaks Penculikan Anak dan Fakta Sebenarnya

KPAI: Sepanjang Oktober Ada 4,3 Juta Berita Hoaks Penculikan Anak


Pelaku kedua yakni US, ditangkap di rumahnya Jalan Borong Jambu, Kecamatan Panakukkang, Makassar. Dia memposting sebuah foto penangkapan seorang pelaku penculikan anak di Kota Makassar pada Jumat (2/11/2018). Faktanya, gambar yang diunggah merupakan pelaku kasus pencabulan.

“Mereka mengunggah dan menyebarkan berita hoaks penculikan anak yang menyebabkan ketakutan dan keresahan. Ini sangat bahaya sekali. Seolah-olah kejadiannya ada di Makassar,” ujar Sondani, Selasa (6/11/2018).

Dia mengungkapkan sepanjang 2018 ini, fenomena penculikan anak menyebar masif di medsos. Karena itu dia mengingatkan dan mengimbau warga untuk tidak mudah percaya, apalagi ikut menyebarkan informasi hoaks tersebut.

“Jangan percaya berita yang bukan dikeluarkan pejabat publik yang bersangkutan. Siapapun yang menyebarkan akan dikenakan sanksi,” katanya.

Dalam kasus penyebaran hoaks tersebut, kedua pelaku terancam Pasal 15 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman hukuman dua tahun penjara. “Keduanya masih kami periksa sebagai saksi. Kita lihat saja nanti perkembangannya,” ucapnya.


Editor : Donald Karouw