Viral, Pria di Tana Toraja Sulsel Mengaku sebagai Nabi dan Rasul Terakhir

Jufri Tonapa · Selasa, 03 Desember 2019 - 14:20 WIB
Viral, Pria di Tana Toraja Sulsel Mengaku sebagai Nabi dan Rasul Terakhir

Pria di Tana Toraja, Paruru Daeng Tau, mengaku sebagai nabi dan rasul terakhir membuat geger media sosial. (Foto: iNews/Jufri T).

TORAJA, iNews.id - Seorang pria asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), mendadak viral di media sosial setelah mengaku dirinya sebagai rasul terakhir. Setelah diselidiki orang tersebut dinilai hanya kurang memahami ayat Alquran dan materi tentang keislaman.

Pria yang mengaku sebagai rasul terakhir, Paruru Daeng Tau, membuat heboh warga setelah dirinya menjadi pimpinan Lembaga Pelaksana Amanah Adat dan Pancasila (LPAAP) di Dusun Mambura, Desa Lembang Buntu Datu, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulsel.

Saat dikonfirmasi, Paruru Daeng Tau membantah kalau dirinya telah mendeklarasikan diri sebagai rasul terakhir. Apalagi sampai disebut apa yang dia ajarkan ini bertentangan dengan rukun Islam.

BACA JUGA: Diduga Hina Nabi Muhammad, Mantan Guru Yayasan di Palopo Ditangkap

"Saya tidak pernah melarang puasa, apalagi salat lima kali sehari," kata Paruru kepada wartawan di Makodim 1414/Tana Toraja, Senin (2/12/2019) malam.

Sebelumnya, media sosial geger dengan adanya ajaran LPAAP yang dipimpin Paruru Daeng Tau yang punya sekitar 50 orang pengikut. Disebutkan juga, dalam ajaran tersebut anjuran salah hanya dua kali sehari. Selain itu, dia mengubah aturan soal zakat, puasa dan ibadah haji.

"Saya bersumpah, saya tidak pernah mengatakan kalau saya ini nabi atau rasul," ujar dia.

BACA JUGA: Warga Demangrejo Kulonprogo Geger Temukan 8 Alquran Terpotong-potong di Kebun

Sementara itu, Dandim Tana Toraja Letkol Zaenal Arifin mengatakan, pria yang viral karena sempat mengaku rasul terakhir ini sebetulnya hanya punya keinginan lebih belajar tentang Islam. Namun tidak memiliki pendamping atau pengajar yang tepat, sehingga menyalahartikan ajaran Islam.

Dia meminta, ke depannya Paruru Daeng Tau harus bisa mendekati ulama dan belajar banyak tentang esensi Islam. Jangan pernah mengartikan ayat-ayat Alquran secara sepotong-sepotong.

"Harus utuh bila ingin belajar Islam. Saya juga minta bapak Paruru untuk berdiskusi dengan ulama," ujar dia.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal