Pakar Kelautan Sebutkan Penyebab Fenomena Ubur-Ubur Terdampar di Pantai Sumbar

Antara ยท Sabtu, 12 Oktober 2019 - 03:21 WIB
Pakar Kelautan Sebutkan Penyebab Fenomena Ubur-Ubur Terdampar di Pantai Sumbar

Ilustrasi ubur-ubur tedampar di pantai. (Foto: Istimewa)

PADANG, iNews.id - Ketua Program Studi Sumber Daya Perairan, Pesisir dan Kelautan Pascasarjana Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Harfiandri Damanhuri mengatakan fenomena ubur-ubur terdampar di Pantai Pariaman dan Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) disebabkan banyak faktor.

Diantaranya pembuangan limbah domestik dari daratan yang masuk ke laut. Sampah yang terbawa arus permukaan mengubah pola migrasi ubur-ubur.

"Saat pergerakan arus, ubur-ubur tersebut ikut terbawa arus dan terdampar ke pinggir pantai," katanya di Padang, Jumat (11/10/2019).

Faktor lain yakni perubahan arus dan pergerakan massa air laut yang menjadi rendah, sehingga tingkat kesuburan perairan dan kadar oksigen yang tinggi dapat meningkatkan ketersediaan sumber pakan bagi ubur-ubur.

BACA JUGA: 4 Nelayan di Pariaman Sumbar Tersengat Ubur-Ubur Beracun di Pinggiran Pantai

Harfiandri menambahkan suhu panas yang relatif panjang dalam masa perubahan siklus, juga menyebabkan fitoplankton atau sumber makanan ubur-ubur menumpuk di satu tempat. Akibatnya ubur-ubur juga menumpuk di daerah yang sama.

Sebab lain yang Harfiandri sebut yakni itu, peningkatan jumlah ubur-ubur yang disebabkan karena populasi penyu yang mulai langka di Sumatera Barat. Ubur-ubur merupakan makanan utama dari seluruh jenis penyu yang ada di dunia dan di perairan.
“Di Sumbar terdapat empat jenis penyu, namun saat ini populasinya mulai berkurang," kata dia.

Meningkatnya jumlah ubur-ubur juga tergantung cuaca. Artinya jika masih terjadi kabut, laut tropis menjadi lebih statis dan perairan akan menjadi subur. Akibatnya jumlah ubur-ubur semakin banyak yang naik ke permukaan.

BACA JUGA: Wisatawan Tersengat Ubur-Ubur Beracun di Pantai Parangtritis

Faktor lain yang menyebabkan ubur-ubur naik ke permukaan yakni banyaknya debu menyebabkan cahaya ke permukaan laut berkurang, pergerakan air laut menjadi lambat dan terjadi produktifitas perairan yang tinggi di permukaan.

Ubur-ubur merupakan hewan plankton, transparan, bergerak atau berpindah karena ada arus laut yang dinamis.
Ubur-ubur yang tersentuh atau merasa terganggu maka reaksinya akan mengeluarkan racun untuk melindungi diri dari lawannya. Sementara tingkat toksinnya tergantung jenis ubur-ubur.

Bagian tubuh yang terkena sengatan ubur-ubur api atau ubur-ubur merah bisa menyebabkan gatal-gatal. Namun, jika toksinnya lebih tinggi dan masuk ke saluran darah, akan mengganggu siklus peredaran darah, gerakan irama jantung, siklus pernafasan dan tingkat stres yang tinggi bisa mengakibatkan otot jadi kejang.

BACA JUGA: 92 Wisatawan di Sukabumi Jadi Korban Sengatan Ubur-Ubur

"Jangka panjang bisa mengakibatkan kematian," kata dia.

Biasanya ubur-ubur yang beracun berwarna merah atau biru jarang muncul ke permukaan. Perpindahannya disebabkan karena siklus air laut atau water movement secara teratur.

Sebelumnya, ubur-ubur jenis bluebottle yang sudah lama tidak terlihat kini bermunculan di tepi Pantai Kota Pariaman. Dalam sepekan ini sudah empat nelayan di Kota Pariaman diserang ubur-ubur tersebut.


Editor : Umaya Khusniah