Peringatan 10 Tahun Gempa Sumbar M7,9, BNPB Ingatkan Warga Siap Siaga Hadapi Bahaya

Ilma De Sabrini ยท Selasa, 01 Oktober 2019 - 17:46 WIB
Peringatan 10 Tahun Gempa Sumbar M7,9, BNPB Ingatkan Warga Siap Siaga Hadapi Bahaya

Sekretaris Utama BNPB Harmensyah dan para perwakilan stakeholder saat acara Sumatera Barat dan Refleksi 10 Tahun Gempa di Kota Padang, Sumbar, Senin (30/9/2019). (Foto: Istimewa)

PADANG, iNews.idGempa bumi dahsyat bermagnitudo7,9 pernah mengguncang Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), pada 30 September 2009 lalu. Mengenang 10 tahun bencana tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mengingatkan masyarakat siap siaga dalam menyikapi bahaya serupa.

Gempa yang terjadi pada 30 September 2019 itu berkedalaman 87 kilometer (km). Gempa berpusat 50 km dari arah Barat Laut Kota Padang. Gempa tersebut mengakibatkan ribuan jiwa meninggal dan kerusakan infrastruktur yang massif.

Sekretaris Utama BNPB Harmensyah saat acara Sumatera Barat dan Refleksi 10 Tahun Gempa, Senin (30/9/2019) di Kota Padang, Sumbar mengatakan, sikap siap siaga harus melekat pada setiap individu di dalam masyarakat Sumbar. Hal tersebut bisa dilakukan sejak dini melalui program sekolah siaga bencana.

“BPBD setempat dapat melakukan upaya seperti roadshow ke sekolah-sekolah untuk menyosialisasikan Sumbar Tangguh Bencana. Langkah konkret yang dapat dilakukan seperti apel atau materi di dalam kelas kepada para murid,” kata Harmensyah.

BACA JUGA:

Pakar Tsunami Sebut Gempa Bermagnitudo 8,8 Berpotensi Terjadi di Selatan Jawa

Wagub Sumbar : Profesor Jepang Ingatkan Potensi Tsunami Mentawai

Harmensyah mengatakan, kesiapsiagaan artinya juga membangun ketangguhan mulai dari lingkungan keluarga. Ketangguhan dibangun pada tiap tingkatan, seperti desa, kecamatan hingga kabupaten atau kota.

“Ketangguhan membutuhkan sinergi semua komponen di semua level karena bencana adalah everyone’s business,” kata Harmensyah.

Harmensyah juga memberikan beberapa pandangan dalam acara tersebut. Dia mencontohkan filosofi masyarakat setempat, alam takambang jadikan guru yang hidup di tanah Minang. Filosofi ini mengandung nilai agar masyarakat dapat belajar dan mengambil pelajaran dari fenomena alam.

“Filosofi ini bisa dimaknai, salah satu contohnya bagaimana kita membangun tempat tinggal di kawasan rawan bahaya,” katanya.

Harmensyah juga menekankan otorisasi pemerintah dalam memberikan izin pendirian bangunan dan izin lainnya. Dengan begitu, kerusakan alam tidak terjadi dan tata guna ruang dapat terpelihara.

Dia juga menekankan pentingnya shelter sehubungan dengan risiko bahaya gempa dengan kategori tinggi. Gedung dan bangunan publik dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas pendukung penanggulangan bencana.

“Siapkan MoU (Memorandum of Understanding) bersama dunia usaha. Contoh di Bali, di mana hotel-hotel dan bangunan publik telah menyiapkan shelter tsunami,” ujar Harmensyah.


BACA JUGA: BMKG Minta Masyarakat Tak Resah dengan Potensi Megathrust


Sementara shelter buatan yang sudah ada juga harus dirawat dan dikelola dengan baik. Pemerintah perlu memiliki database shelter, seperti daya tampung, fasilitas, atau pun aksesibilitas. Database tersebut harus bisa diakses oleh masyarakat sehingga mereka dapat memetakan shelter mana yang terdekat dari posisi dia berada.

“Selain itu, shelter alam juga dimanfaatkan. Apabila telah memiliki shelter ini, perlu diperhatikan aksesibilitasnya, seperti tanggal, tali atau jalur evakuasi,” ujarnya.

Dalam peringatan 10 tahun gempa Sumbar itu, Harmensyah menyampaikan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam penanggulangan bencana. Termasuk peran media massa yang sangat penting dalam membawa pesan kepada masyarakat.

“Media massa tentu memiliki keahlian dalam mengomunikasikan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat serta kanal media yang dapat menjangkau masyarakat secara luas,” katanya.

Harmensyah juga mengatakan, mengenang 10 tahun gempa Sumbar tentu tidak hanya berlaku di wilayah tersebut. Semua masyarakat Indonesia juga penting mengingat bahwa kita hidup di wilayah rawan bahaya.

“Peneliti paleotsunami dari Brigham Young University, Amerika Serikat Profesor Ron Harris pernah menyampaikan bahwa kita yang hidup di Indonesia jangan lupa akan sejarah. Jangan lupa, kenali ancamannya, siapkan strateginya dan siap untuk selamat,” katanya.


Editor : Maria Christina