Polda Sumbar Tangkap Dokter Hewan Diduga Sebarkan Makar dan Hoaks di Facebook

Antara ยท Selasa, 04 Juni 2019 - 17:30 WIB
Polda Sumbar Tangkap Dokter Hewan Diduga Sebarkan Makar dan Hoaks di Facebook

Ilustrasi hoaks. (Foto: Okezone)

PADANG, iNews.id – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumatera Barat (Sumbar) menangkap seorang dokter hewan, Sy (50) yang diduga melakukan tindak pidana penyebaran hoaks, isu SARA, dan makar melalui aplikasi media sosial Facebook. Tersangka ditangkap Senin (3/6/2019) sekitar pukul 02.30 WIB di Jalan Raya Tanjung Pati KM 7 Kabupaten 50 Kota.

“Kami sebelumnya menerima pengaduan masyarakat pada 30 Mei terkait akun Facebook atas nama drh Sy membuat postingan yang diduga berisikan hoaks serta penghinaan terhadap lembaga negara,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumbar AKBP Juda Nusa Putra, Selasa (4/6/2019).

Juda mengatakan, setelah melakukan penyelidikan dan memperoleh bukti akurat, Polda Sumbar memangkap Sy dibantu jajaran Polres Payakumbuh dan Polres 50 Kota. Pelaku diduga menyebarkan konten-konten di akun Facebook-nya berbau SARA, ujaran kebencian, hoaks, makar dan mengajak referendum. Selain itu, konten penghinaan ditujukan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Presiden, dan Kepolisian.

“Konten tersebut menghina presiden dan mengajak makar terhadap pemerintah. Kemudian menyebut Brimob dengan sebutan ras lainnya,” ujar Juda.

BACA JUGA: Dokter di Bandung Ditangkap karena Sebar Hoaks Polisi Tembak Anak 14 Tahun

Modus yang dilakukan pelaku dengan cara memposting atau membuat konten di Facebook. Postingan itu bertujuan untuk menarik perhatian pengguna media sosial lainnya agar tertarik membaca, menyukai serta menyebarluaskannya.

Pelaku memposting konten-konten tersebut di antara tanggal 22 Mei, 26 Mei, dan 28 Mei 2019. Postingan ini disebarkan sebanyak 8.400 kali, 3.000 menyukai, dan komentar 1.000. Konten-konten itu menyebar dan menjadi perhatian secara nasional.

Di akun Facebook-nya, pelaku menuliskan kalimat seperti “Saya tak ingin makar tapi jika kalian pikir NKRI itu hanya hitungan jumlah pemilih di pulau jawa saya punya hak untuk bergerak paling terdepan untuk mewujudkan ini dan jangan anggap ini hanya meme main-main mainan saja #kami telah sedang bergerak”.

Kemudian, Republik Andalas Raya Sumatera menuntut referendum jika Indonesia dipimpin oleh Presiden Joko Widodo yang zholim, otoriter, penipu dan semena mena pada ulama dan rakyat. BY: Barisan Pemuda Pulau Andalas.

“Kami masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku dan pelaku mengakui perbuatannya. Barang bukti yang disita sebuah telepon pintar,” katanya.


BACA JUGA: Napi di Lapas Sorong Jadi Penyebar Hoaks Kapolri Pembunuh


Berdasarkan pengakuan pelaku, dirinya merupakan lulusan dari salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa. Dia juga mengalami persoalan rumah tangga.

“Memang dia ini sekarang ada permasalahan keluarga, ada beberapa kali membangun rumah dan itu selalu gagal. Ini yang membuat dia merasa ada yang perlu dia ceritakan melalui aplikasi Facebook,” katanya.

Pelaku disangkakan pasal 45 b jo pasal 29 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kemudian, Pasal 45 ayat 4 juncto pasal 27 ayat 4 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008.

Selanjutnya, Pasal 14 ayat 2 dan/atau Pasal 15 Undang-Undang No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana jo Pasal 207 KUHP dengan ancaman maksimal enam tahun dan denda Rp1 miliar.

Sementara itu, pelaku drh Sy mengaku tidak menyesali perbuatannya dan siap menghadapi proses hukum. “Tidak menyangka saja sudah viral begini. Ini hanya iseng saja karena diskusi di grup apa itu referendum,” katanya.


Editor : Maria Christina