Cerita ASN Palembang, Lolos dari Musibah Lion Air karena Kena Macet

Bambang Irawan ยท Kamis, 01 November 2018 - 15:52 WIB
Cerita ASN Palembang, Lolos dari Musibah Lion Air karena Kena Macet

Syaiful Rahman, Staf Ahli di Pemkot Palembang, Sumsel, yang batal naik pesawat Lion Air JT 610, pada Senin (1/11/2018). (Foto: iNews/Bambang Irawan)

PALEMBANG, iNews.id – Tragedi Lion Air yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat (Jabar), menimbulkan kengerian dan trauma bagi sebagian masyarakat. Begitu juga sejumlah penumpang yang batal berangkat di hari saat insiden itu terjadi, Senin (29/10/2018).

Salah satunya Syaiful Rahman, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemkot Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Staf ahli Pemkot Palembang itu tak menyangka, situasinya yang terjebak kemacetan dari Kota Bandung menuju Bandara Soekarno-Hatta, membuat dia batal naik pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang. Dia terhindar dari kecelakaan maut yang menewaskan 189 penumpang.

Syaiful Rahman mengaku bersyukur bisa kembali ke Palembang dan melanjutkan aktivitas sebagai abdi negara, Kamis pagi (1/22/108). Dia bercerita, Minggu lalu, dia berada di Kota Bandung, Jawa Barat, menjenguk anaknya. Dia berencana pulang ke Palembang lewat Bandara Depati Amir, Kota Pangkalpinang, Senin pagi (1/11/2018).

Dia pun berusaha mencari tiket penerbangan ke Pangkalpinang, tapi selalu gagal. Akhirnya dia meminta bantuan temannya Agus Firmanjaya untuk mencari dan memesan tiket penerbangan pada Senin pagi melalui aplikasi elektronik.


BACA JUGA: Cerita Sertu Marinir Hendra Temukan Black Box Lion Air JT 610


Singkat cerita, dia pun mendapatkan tiket penerbangan Lion Air JT 610 yang berangkat pukul 06.40 WIB. Syaiful berangkat Minggu dini hari dari Bandung agar bisa sampai tepat waktu di bandara. Namun di perjalanan, dia terjebak kemacetan parah di Cikarang karena proyek pembangunan LRT dan tol selama 8 jam.

Selama di perjalanan, Syaiful mengaku kesal karena terjebak macet dan dipastikan terlambat sampai di bandara. Dia terpaksa memesan tiket baru karena diperkirakan sampai pukul 07.00 WIB di Jakarta, terlambat 20 menit dari jadwal penerbangan awal Lion Air JT 610.

“Saya sudah ada tiket JT 610 dan saya terpaksa ganti tiket baru karena terlambat dan masih di Cikarang. Butuh waktu 2 jam ke bandara, jadi pasti terlambat,” katanya.

Dia pun kaget setelah mengetahui pesawat Lion Air JT 610 hilang kontak dan dipastikan jatuh di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Awalnya dia mengira itu hoaks. Setelah membaca berita dari berbagai media, dia mengetahui kejadian itu benar.

“Saya kan tidak langsung percaya informasi pesawat Lion Air jatuh, jadi saya konfirmasi. Akhinya saya tahu itu benar dan bukan hoaks. Namanya ini urusan Tuhan. Saya langsung sujud syukur,” kata Syaiful Rahman.


BACA JUGA: Pesawat Jatuh, Lion Air Klaim Operasional Penerbangan Tetap Normal


Temannya, Agus Firman Jaya membenarkan, Senin kemarin, Syaiful meminta tolong padanya mencari dan memesan tiket ke Pangkalpinang. Dia lalu mencoba mencari lewat berbagai aplikasi dan berhasil memesan tiket pesawat Lion Air JT 610 untuk Syaiful.

“Memang agak susah ya karena maunya Senin, tapi akhirnya dapat tiket ke Pangkalpinang pada Senin pagi. Saya mau bayar belum bisa. Lalu saya suruh pak Syaiful yang bayar biar enggak hangus, tapi ternyata dia terjebak macet dan beli tiket baru,” kata Agus Firman Jaya.

Syaiful dan Agus berharap, ke depan pelayanan transportasi udara lebih diperketat lagi. Ketika pesawat bermasalah, sudah seharusnya tidak dipaksa terbang sehingga tidak berisiko bagi keselamatan para penumpang.


Editor : Maria Christina