Bayi Perempuan Lahir Bermata Satu Tanpa Hidung Gegerkan Warga Madina

Liansah Rangkuti ยท Kamis, 13 September 2018 - 23:39 WIB
Bayi Perempuan Lahir Bermata Satu Tanpa Hidung Gegerkan Warga Madina

Bayi berjenis kelamin perempuan yang baru dilahirkan memiliki satu mata di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut. (Foto: iNews.id/Liansyah)

MANDAILING NATAL, iNews.id - Kelahiran bayi bermata satu terjadi di RSUD Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, Kamis (13/9/2018) sekitar pukul 15.25 WIB. Bayi berjenis kelamin perempuan itu merupakan anak kelima dari pasangan Suriyanti warga Kelurahan Kayujati Kecamatan Panyabungan.

Beredarnya kabar yang mengherankan itu, warga yang ada di lingkungan rumah sakit pun dibuat gempar dengan peristiwa itu.

"Saya shock melihatnya dan ada rasa takut apakah ini suatu pertanda peringatan dari Sang Pencipta" kata Nursaidah Hasibuan (26), warga yang sengaja datang untuk melihat kelahiran bayi itu.

Karena pihak keluarga tidak lagi mengizinkan warga yang hendak melihat kondisi bayi bermata satu itu, pihak rumah sakit pun sangat tertutup untuk dikonfirmasi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madina, Dr Syarifuddin mengatakan, saat melihat langsung kondisi bayi tersebut di RSUD Panyabungan bayi yang memiliki berat 24 gram itu hanya memiliki satu mata dan mulut saja sementara hidungnya tidak ada.

Dia mengatakan, kejadian seperti ini tergolong langka, dan kejadian ini merupakan kasus ke-7 yang terjadi di seluruh dunia. Sebelum kejadian di Panyabungan ini (Indonesia), kasus yang sama terakhir pernah terjadi di negara Mesir.

Penyebab kejadian ini masih belum diketahui secara pasti. Hanya, menurut dokter bisa saja karena obat-obatan atau juga akibat merkuri. Di mana kabupaten Madina adalah wilayah pertambangan emas masyarakat yang begitu merajalela. 

"Jika dikaitkan dengan pekerjaan ayah sang bayi sebagai penambang, ataupun juga karena virus rubella. Kita masih kesulitan mendapat informasi karena keluarganya masih tertutup," kata Syarifuddin

Bayi ini direncanakan di rujuk ke Medan, namun melihat kondisi bayi yang diprediksi bertahan satu sampai tiga hari membuat pertimbangan untuk melakukan rujuk ke rumah sakit di Medan.


Editor : Kastolani Marzuki