Bertahan Hidup 7 Jam, Bayi Mata Satu Tanpa Hidung di Madina Meninggal

Liansah Rangkuti · Jumat, 14 September 2018 - 08:49 WIB
Bertahan Hidup 7 Jam, Bayi Mata Satu Tanpa Hidung di Madina Meninggal

Bayi berjenis kelamin perempuan yang baru dilahirkan memiliki satu mata di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut. (Foto: iNews.id/Liansyah Rangkuti)

MADINA, iNews.id – Bayi tak berhidung dan bermata satu yang baru lahir di wilayah Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), akhirnya meninggal dunia. Bayi malang itu sempat berjuang untuk bertahan hidup selama tujuh jam sebelum mengembuskan napas terakhir.

Kabar itu disampaikan Damanson (70), tetangga kedua orangtua bayi. "Iya tadi sudah dibenarkan dokter dan disaksikan para perawat lainnya. Bayinya meninggal dunia. Bayinya masih dalam ruangan jaga perawat anak, kemungkinan besok (hari ini) dikebumikan," katanya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panyabungan, Kamis (13/09/2018) malam.

Keterangan salah satu perawat, bayi bermata satu dan tidak memiliki lubang hidung itu lahir Kamis (13/9/2018), pukul 15.25 WIB dan dinyatakan meninggal pukul 22:30 WIB.

BACA JUGA: Bayi Perempuan Lahir Bermata Satu Tanpa Hidung Gegerkan Warga Madina

"Persalinannya tadi dengan operasi sesar. Bayinya sempat bertahan hidup kurang lebih tujuh jam. Kami masih menunggu keputusan keluarga, makanya bayinya masih di dalam ruang perawatan,” kata perawat tersebut.

Diketahui, warga kota Panyabungan awalnya geger dengan kelahiran sosok bayi berjenis kelamin dengan hanya memiliki satu mata dan berat 2,4 kilogram (Kg).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madina Syarifuddin kejadian seperti ini tergolong langka dan merupakan kasus ketujuh yang terjadi di seluruh dunia. Sebelum kejadian di Panyabungan ini (Indonesia), kasus yang sama terakhir pernah terjadi di negara Mesir.

Penyebab kejadian ini masih belum diketahui secara pasti. Hanya menurut dokter bisa saja karena obat-obatan atau akibat merkuri. Apalagi wilayah kabupaten Madina merupakan daerah pertambangan emas.

"Kami masih kesulitan mendapat informasi karena keluarganya tertutup. Jika dikaitkan dengan pekerjaan ayah sang bayi sebagai penambang atau pun juga karena virus rubella," kata Syarifuddin.


Editor : Donald Karouw