Kasus Bocah Dibakar dan Minum Air Seni di Tanjungbalai, Ini Kata KPAI

Antara ยท Jumat, 09 November 2018 - 21:28 WIB
Kasus Bocah Dibakar dan Minum Air Seni di Tanjungbalai, Ini Kata KPAI

Bocah AY yang hanya terbaring lemah karena mengalami luka bakar di kaki atas ulah teman sepermainannya. (Foto: iNews/Ulil Amri)

JAKARTA, iNews.id – Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati angkat bicara atas kasus dugaan kekerasan anak oleh teman sepermainannya di Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut). Dia menilai, pelaku bocah 10 tahun yang menyuruh temannya minum air seni dan sekaligus membakar dengan bensin, bisa digolongkan sebagai korban.

"Anak yang menjadi pelaku dalam hal ini sesungguhnya juga korban dari situasi yang tidak tepat," kata Komisioner KPAI bidang Pengasuhan di Jakarta, Jumat (9/11/2018).

Dia mengatakan, berkaitan atas kasus korban bocah dibakar di Tanjungbalai, sudah seharusnya orang tua dari anak pelaku melakukan evaluasi pengasuhan. Khususnya menanyakan pada diri sendiri hingga anak bisa melakukan tindakan kekerasan terhadap temannya.

Menurutnya, orang tua harus memberikan contoh baik di rumah sehingga anak terinspirasi sikap positif orang tua. Selain itu, kendali terhadap tontonan dan game yang dimainkan menjadi salah satu kunci penting agar anak berperilaku baik.

"Kejadian ini mengingatkan kita semua tentang pentingnya orang tua untuk terus menerus memberikan pengasuhan terbaik dan pengawasan yang optimal," ujarnya.

BACA JUGA: Bocah 8 Tahun di Tanjungbalai Dibakar Teman dan Disuruh Minum Air Seni

Rita mengatakan, pada aspek hukum anak di bawah 12 tahun belum memiliki pertanggungjawaban sehingga secara otomatis dikembalikan kepada orang tuanya. Anak hanya akan mendapat pendidikan, pembinaan serta pembimbingan agar lebih baik ke depannya.

Selain itu, korban kekerasan juga penting mendapatkan perlindungan, pemulihan dari rasa trauma dan rehabilitasi sosial. KPAI sangat menyayangkan kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak kepada anak lain tersebut.

Rita mengungkapkan, anak usia sekolah dasar memang sudah memasuki fase kemandirian, seperti mandiri bersosialisasi termasuk bermain dengan temannya. Orang tua berperan untuk mengajarkan bagaimana menolak perilaku kasar yang dilakukan teman, mengingatkan dan tetap bersikap tegas terhadap perilaku buruk yang ditujukan kepadanya.

“Selain itu, mendidik anak untuk memiliki karakter yang baik sangat penting, misalnya mengingatkan mereka agar menyayangi dan menghargai sesama,” ucapnya.

Diketahui, seorang bocah berusia delapan tahun berinsial AY menjadi korban kekerasan teman sepermainannya, di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut). Dia dipaksa minum air seni pelaku kemudian dibakar dengan menggunakan bensin hingga korban mengalami luka bakar 4 persen dan mendapat perawatan medis di Rumah Sakit Umum (RSU) setempat.


Editor : Donald Karouw