Kasus Narkoba, Oknum TNI Dituntut Pemecatan dan Penjara Seumur Hidup

Stepanus Purba ยท Jumat, 02 November 2018 - 15:25 WIB
Kasus Narkoba, Oknum TNI Dituntut Pemecatan dan Penjara Seumur Hidup

Oknun TNI Koptu ND saat di Pengadilan Militer. (Foto: Istimewa)

MEDAN, iNews.id – Seorang personel Yonif 125 Simbisa/Kodam I Bukit Barisan berinisial ND dengan pangkat kopral satu (Koptu) dituntut hukuman pemecatan dan pidana penjara seumur hidup, serta denda Rp5 miliar subsider lima bulan masa tahanan. Tuntutan itu dibacakan Oditor Pengadilan Militer Kolonel Sus Budiharto di depan Majelis Hakim Pengadilan Militer yang dipimpin Kolonel Chk Bambang Indrawan, Kamis (1/11/2018).

Oditur Kolonel Sus Budiharto mengungkapkan, pihaknya menyakini bahwa Koptu ND terlibat langsung dalam upaya penyelundupan narkoba jenis sabu seberat 44 kilogram (kg).

"Kami menuntut terdakwa dengan pidana pokok yakni pidana penjara seumur hidup, denda Rp5 miliar dan subsider 10 bulan kurungan. Selain itu pidana tambahan dipecat dari militer. Kami juga memohon terdakwa agar tetap ditahan selama proses persidangan," ucap Budiharto kepada awak media, Jumat (2/11/2018).


BACA JUGA:

Prajurit TNI Bantu Pembangunan Rumah Warga Pascagempa NTB

Komandan Seskoal Paparkan Peluang Baru Penyelesaian Sengketa Maritim


Atas perbuatannya, Koptu ND didakwakan dengan Pasal 114 ayat (1) jo ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Terdakwa telah tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman beratnya lebih dari 5 gram yang dilakukan secara bersama-sama.

"Hal yang memberatkan terdakwa, saat berdinas TNI tidak sesuai dengan Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI. Perbuatannya bisa merusak generasi dan masyarakat Indonesia. Perbuatan yang dilakukan terdakwa bukan hanya sekali, akan tetapi sudah yang keenam kalinya. Sementara hal yang meringankan terdakwa sudah mengabdi di TNI dan sudah beberapa kali melaksanakan operasi tugas," ucap Budiharto.

Dia mengungkapkan, pengadilan terhadap terdakwa Koptu ND Budiarto masih akan berlanjut dengan untuk membacakan agenda pembelaan. Penasihat hukum terdakwa menyatakan akan menyampaikan pleidoi pada sidang Senin pekan depan," ucapnya.

Diketahui, dalam perkara ini, Koptu ND ditangkap tim gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polda Sumatera Utara di Serdangbedagai, pertengahan Juli 2017.

Ketika itu tim menangkap delapan pelaku dan menembak mati dua lainnya. Delapan yang ditangkap yakni Anyar, Rofi, Marzuki, Saidul Saragih, Ahmad, Untung, Edy Saputra dan Aiptu SH. Nama terakhir merupakan anggota Polres Serdangbedagai yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pos Polair Pantai Cermin. Sementara dua pelaku yang ditembak mati yakni Bambang Julianto dan Moh Syafii alias Panjul alias Boy.

Delapan pelaku itu sudah dijatuhi hukuman di Pengadilan Negeri (PN) Lubuk Pakam pada April 2018 dan putusannya telah dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Medan. Tujuh di antaranya dijatuhi hukuman mati, yakni: Anyar, Rofi, Marzuki, Saidul Saragih, Ahmad, Untung dan Suherianto. Seorang lainnya, Edy Saputra dijatuhi hukuman pidana penjara seumur hidup.

Selain 10 orang itu ternyata terdapat dua personel TNI yang terlibat, yakni Koptu NH dan Kopda FD, yang merupakan anggota TNI AU. Mereka mempunyai peran berbeda. Koptu ND menjemput narkotika dari tengah laut menggunakan perahu motor milik Suherianto. Sementara Kopda FD mengamankan mobil yang disewa untuk membawa sabu dari Medan ke Pekanbaru. Namun, persidangan Kopda FD belum sampai pada pembacaan tuntutan.

Dalam persidangan, terdakwa ND mengaku sudah 6 kali menjemput sabu di tengah laut. Perbuatan itu dilakukannya sejak 2015 silam.


Editor : Donald Karouw