Pembantu Rumah Tangga asal NTT Jadi Korban Penyiksaan Majikan di Medan

Devis Karmoy ยท Rabu, 15 Agustus 2018 - 08:16 WIB
Pembantu Rumah Tangga asal NTT Jadi Korban Penyiksaan Majikan di Medan

Adelina Naibabu (31) pembantu rumah tangga asal NTT yang mengalami siksaan saat menceritakan kisahnya. (Foto: iNews/Devis Karmoy)

MEDAN, iNews.id – Kisah pilu harus dialami Adelina Naibabu (31) seorang pembantu rumah tangga asal Kabupaten Timur Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama berbulan-bulan menjalani pekerjaannya, dia menjadi korban kekerasan fisik dan mental di rumah majikannya, Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Saat ini, Adelina hanya bisa terbaring lemas menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Pirngadi, Medan. Sekujur tubuhnya terasa sakit, bahkan beberapa bagian meninggalkan luka.

Adelina menceritakan, awal penderitaannya dimulai saat dia memutuskan untuk mendaftar sebagai pembantu rumah tangga pada September 2017, melalui salah satu yayasan penyalur tenaga kerja di Tuamau, RT 8/2, Desa Bannae, Kecamatan Insana Barat, TTU, NTT.

Dia kemudian dikirim ke majikan berinisial SB yang berada di Medan, Sumut. Selama menjalani pekerjaannya, Adelina tidak pernah diizinkan keluar dari rumah, bahkan gaji yang dijanjikan Rp1 juta per bulan pun tak pernah sekalipun diterimanya.

Justru, dia harus mengalami siksaan demi siksaan, baik secara mental dan psikis. Adelina pun memutuskan melarikan diri dari rumah majikannya dan pergi berlindung ke RS Pirngadi, sekaligus untuk mendapat bantuan medis atas luka fisiknya.

“Saya tak tahan terus disiksa. Untuk makan saja saya harus bermohon dan dipukul terlebih dahulu oleh majikan saya,” kata Adelina dengan berurai air mata, Selasa (14/8/2018).

Tak cukup sampai disitu, dia juga dipaksa harus menurut apa pun yang majikannya perintahkan. Tidak boleh keluar kamar jika suami dari majikannya pulang. “Saya diancam macam-macam, akan dibunuhlah kalau dekat dengan suami majikan,” ujarnya.

Saat ini, Adelina hanya berharap satu hal agar dirinya bisa dipulangkan ke kampung halamannya. Dia tak sanggung lagi menerima siksaan fisik dari majikannya setelah delapan bulan bekerja tanpa dibayar. “Saya minta tolong pemerintah di sini, bantu pemulangan saja. Itu saja keinginan saya tak ada yang lain,” ucapnya.

Kasus dugaan kekerasan dan penganiayaan yang dialami pembantu rumah tangga ini kini sudah masuh ranah hukum. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Medan yang menanganinya. Kendati demikian, belum ada satu pun yang ditangkap untuk pengembangan penyelidikan, baik majikan maupun jasa penyalur tenaga kerjanya.


Editor : Donald Karouw