Rumah Terkepung Tembok Polres Simalungun, Nenek Ini Harus Naik Tangga

Dharma Setiawan ยท Jumat, 30 November 2018 - 22:49 WIB
Rumah Terkepung Tembok Polres Simalungun, Nenek Ini Harus Naik Tangga

Rumah Hilderia terkepung tembok keliling Polres SImalungundi Kota Pematangsiantar, Sumut. (Foto: iNews.id/Dharma Setiawan)

PEMATANGSIANTAR, iNews.id- Kasus rumah warga tertutup tembok yang mengebohkan Bandung, Jawa Barat dan Jombang, Jawa Timur (Jatim), juga dialami warga di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut).

Kasus ini dialami keluarga Hilderia Boru Samosir (73). Rumah Hilderia terkepung tembok Polres Simalungun hingga terisolasi dan sulit beraktivitas. Untuk bisa keluar rumah, Hilderia dan anggota keluarganya tiap hari harus memanjat tembok dengan naik tangga setinggi dua meter karena tidak ada akses jalan.

Sebelumnya, rumah Hilderia dan anaknya, Sondang Hutagalung terletak persis di belakang asrama polisi dan akses jalan harus melewati asrama. Namun karena alasan keamanan dan mewaspadai bentuk teroris, pihak polres membangun tembok di sekeliling asrama.

Padahal, Hilderia merupakan keluarga besar polisi. Namun sejak suaminya meninggal dan tidak lagi bisa menempati rumah dinas di asrama polisi, Hilderia dan anaknya kemudian membangun dua rumah di belakang asrama.

“Persoalannya mula-mula, semua asrama mau dibuat tembok keliling. Takut katanya ada teroris. Tapi, kalau takut teroris kenapa di jalan asrama tidak ditutup,” katanya ditemui di rumahnya, Jumat (30/11/2018).

BACA JUGA:

Tak Hanya di Bandung, Rumah Tertutup Tembok Juga Terjadi di Jombang

Penuturan Eko Pemilik Rumah yang Terkepung Tembok Tetangga di Bandung

Hilderia yang sudah lanjut usia ini mengaku tiap hari harus memanjat tembok setinggi dua meter. Hal itu dilakukannya karena tidak ada akses lain untuk keluar masuk rumahnya. “Macam mana aku yang sudah tua ini tiap hari harus panjat tembok yang tingginya dua meter. Saya ini juga warakawuri. Suami saya pensiunan polisi. Ini kah balasannya dari Pak Kapolres Simalungun,” beber Hilderia dengan mata berkaca-kaca.

Sebelum akses rumahnya ditutup tembok, Hilderia dan keluarganya mengaku sudah pernah disurati Polres Simalungun untuk mengosongkan lahan yang ternyata masih lahan polres.

Selama ini, pihak polres memberikan keringanan meski keluarga Hilderia dianggap menyalahi aturan karena mendirikan bangunan di daerah aliran sungai yang berbatasan langsung dengan tanah milik kepolisian. “Kata polisi, lebih baik rumah dan tanah saya ini dijual karena masih laku,” ucap Hilderia.

Meski sudah terisolasi dan terkepung tembok, Hilderia dan keluarga masih berharap belas kasihan dari rumah tetangga lainnya agar diberikan akses jalan keluar dan masuk.


Editor : Kastolani Marzuki