Selain Sibolga-Tapteng, Isu Tsunami Juga Resahkan Warga Kepulauan Nias

Antara, Raymond ยท Kamis, 10 Januari 2019 - 10:32 WIB
Selain Sibolga-Tapteng, Isu Tsunami Juga Resahkan Warga Kepulauan Nias

Warga beramai-ramai mengungsi setelah beredar isu tsunami akan terjadi di Kota Sibolga dan Tapteng, Sumut, Kamis dini hari (10/1/2019). (Foto: iNews/Raymond)

GUNUNGSITOLI, iNews.id – Tak hanya di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah (Tapteng), isu akan terjadi tsunami juga menyebar luas di kalangan masyarakat Kepulauan Nias, Sumatera Utara (Sumut). Isu ini meresahkan warga sehingga banyak yang mengungsi ke lokasi lebih tinggi karena takut akan terjadi bencana tersebut.

Warga Kota Gunungsitoli, Juli, mengaku sudah mendengar isu air laut surut, Kamis (10/1/2019). Sepanjang sepengetahuannya, hal tersebut merupakan pertanda akan terjadi tsunami di Kota Gunungsitoli.

“Kami sudah dengar isunya, dan hari ini kami tidak izinkan anak-anak sekolah karena takut jika benar akan terjadi tsunami,” ucapnya.

Hal yang sama juga dikatakan Kris, warga Desa Lasara, Kota Gunungsitoli, yang mengaku telah mendengar isu tersebut. Namun, dia tetap beraktifitas seperti biasa.

“Pagi ini banyak saya melihat warga yang mengungsi ke desa kami. Mereka takut terjadi tsunami dan untuk menyelamatkan diri mereka mengungsi ke daerah yang lebih tinggi,” ujarnya.

BACA JUGA:

Beredar Isu Tsunami, Warga Sibolga dan Tapteng Ramai-ramai Mengungsi

Beredar Isu Tsunami di Tapteng dan Sibolga, Ini Tanggapan BMKG

Sementara Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Gunungsitoli, Djati Cipto Kuncoro membantah jika berita surut air laut di perairan Sibolga, Sumut mengakibatkan tsunami di Kepulauan Nias dan sekitarnya. BMKG Sibolga, Sumut, juga tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut dan memastikan berita tersebut tidak benar.

“BMKG tidak pernah membuat berita tersebut. Berita tersebut menurut dia hanya isu dan membohongi masyarakat, karena isu tersebut tidak mempunyai dasar ilmiah yang jelas,” paparnya.

Dia menjelaskan, fenomena pasang surut yang terjadi disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari. Saat ini jarak bulan akan mendekati titik terdekatnya dengan bumi pada tanggal 20 Januari 2019. Sedangkan jarak matahari ke bumi saat ini pada titik terdekatnya pada tanggal 3 Januari 2019.

“Sampai saat ini gempa bumi tektonik belum dapat diprediksi secara ilmiah dengan baik dan BMKG Stasiun Geofisika Gunungsitoli akan terus berkoordinasi dengan BPBD dan pemerintah setempat untuk menenangkan warga,” katanya.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono juga sebelumnya juga mengatakan, dari analisis rekaman data sinyal seismik di sensor terdekat, tidak ada aktivitas kegempaan di Tapanuli dan sekitarnya.

Hasil pengamatan stasiun pasang surut (tide gauge) di wilayah Sumut, yakni Sibolga, Gunung Sitoli, Lahewa, Teluk Dalam, Pulau Tello, dan Tanabala, tidak ditemukan perubahan gelombang air laut yang signifikan. Yang terjadi hanya gejala normal pasang surut harian.

“Berdasarkan hasil pengamatan lapangan oleh BMKG Pinangsori, Sibolga dan BMKG Gunung Sitoli, Nias, tidak didapatkan adanya gejala peristiwa tsunami. Karena itu, BMKG mengimbau kepada masyarakat agar tidak mempercayai isu tsunami yang berkembang dan dapat melakukan aktivitas seperti biasanya,” paparnya.


Editor : Maria Christina