Kapolda DIY Masih Bungkam soal Penangkapan Terduga Teroris di Sleman

Kuntadi ยท Rabu, 11 Juli 2018 - 19:06 WIB
Kapolda DIY Masih Bungkam soal Penangkapan Terduga Teroris di Sleman

Ketua RT Bedingin Mlati, Sleman, Sumarjono menunjukkan rumah kontrakan terduga teroris Saefuloh yang ditangkap tim Densus 88 Mabes Polri, Rabu (11/7/2018). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

SLEMAN, iNews.id - Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dofiri memastikan polisi yang mengamankan terduga teroris Saefuloh dengan penutup kepala atau sebo dan rompi merupakan tim dari Densus 88 Mabes Polri. Namun, Kapolda belum bisa memberikan penjelasan lengkap ihwal penangkapan terduga teroris itu. “Penjelasannya nanti, informasi belum lengkap,” ujar Kapolda, Rabu (11/7/2018).

Menurut Dofiri, personel yang dilibatkan dalam penangkapan terduga teroris  merupakan petugas gabungan dipimpin tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri. Sedangkan di daerah ada Satgas Densus yang akan bekerja sama dengan polda. “Teknisnya nanti. Jangan sekarang nanti malah salah,” tuturnya.

Kapolres Sleman AKBP M Firman Lukmanul Hakim mengaku tidak banyak terlibat dalam penangkapan ini. Semuanya dilakukan oleh tim Densus 88. “Informasinya dari Mabes, tetapi pastinya saya tidak tahu tadi kan upacara (HUT Bhayangkara),” ucapnya. 

BACA JUGA: 1 Terduga Teroris dan Keluarganya Diamankan Tim Densus 88 di Sleman

Sebelumnya diberitakan, seorang terduga teroris Saefuloh (45) warga Banguntapan Bantul, ditangkap tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri di rumah kontrakannya di Bedingin Wetan, Mlati Sleman. Petugas mengamankan Saefuloh beserta istri dan kedua anaknya.

Saefuloh ditangkap di tepi jalan saat hendak keluar rumah membeli makanan. Petugas selanjutnya menggeledah rumah kontrakan terduga teroris itu disaksikan ketua RT.

Dalam penggeledahan itu, petugas mengamankan beberapa barang bukti, yakni buku, kertas fotokopian, laptop dan ponsel. Selain itu, pedang, pisau serta busur berikut anak panah. “Kijang dan motor Vario juga ikut dibawa,” tutur Sumarjono, Ketua RT yang menyaksikan penggeledahan.

Selama ini, Saefuloh dan keluarganya dikenal sebagai penjual bakso tusuk dan martabak yang mangkal di depan sebuah toko modern berjejaring. Keluarga ini tidak banyak bergaul dengan warga sekitar, meski saat kerja bakti juga ikut. Saefuloh juga rajin salat ke masjid meski biasanya terlambat. “Biasaya kalau sudah salam (salat), dia akan masuk (masjid),” ucap Sumarjono.


Editor : Kastolani Marzuki