Penggarap Eks Lahan Pakualam Ground Harap Dana Tali Kasih Segera cair

Kuntadi ยท Rabu, 05 September 2018 - 11:59 WIB
Penggarap Eks Lahan Pakualam Ground Harap Dana Tali Kasih Segera cair

Warga terdampak proyek Bandara Baru Yogyakarta berunjuk rasa meminta polisi mengusut tuntas kasus dugaan pemotongan dana tali asih lahan Pakaulam Ground (PAG) di Kulonprogo. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id – Warga eks penggarap lahan yang dikenal dengan Tanah Pakualaman (Pakualam Ground) berharap dana tali kasih yang dijanjikan segera dicairkan. Mereka khawatir tidak adanya kejelasan pembagian, karena status tanah justru menjadi sengketa hukum setelah lahan dibebaskan untuk Bandara Baru Yogyakarta (New Yogyakarta International Airport).

“Harapan kami sebagai petani tali asih itu segera diberikan. Kami butuh modal usaha,” kata salah satu petani eks penggarap lahan PAG, David Yunanto, Rabu (5/9/2018).

Pascalahan dipakai untuk bandara, David kehilangan lahan garapan. Rumahnya juga ikut tergusur. Dia terpaksa membuat rumah baru di wilayah Purworejo. David sangat ingin bisa berusaha karena tidak ada lagi lahan yang bisa digarap untuk pertanian.

David menuturkan, kabar pencairan dana atas tanah PAG tersebut diketahui dari media massa. Pakualaman telah mencairkan dana kompensasi senilai Rp701,52 miliar. Dari jumlah ini, akan dialokasikan sebanyak Rp25 miliar untuk petani penggarap. “Yang njawil saja belum ada. Kalau tidak cair jelas kecewa,” ujarnya.

Belakangan lahan yang dikenal dengan status PAG ini menjadi sengketa hukum. Begitu ada proses pelepasan tanah untuk pembangunan NYIA, ada pihak yang mengatasnamakan ahli waris yang sah dari Pakubuwono X.

Para ahli waris dari Suwarsi cs ini mengklaim pihaknya berhak atas tanah tersebut. Bahkan mereka juga memiliki bukti berupa eigendom yang setara dengan sertifikat tanah pada zaman Belanda. “Ini bukti kepemilikan tanah itu. Ini eigendom asli dari warisan orang tua,” ujar Bambang Hadi Supriyanto.

Kubu Suwarsi juga mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Wates yang dilanjutkan di Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta hingga banding ke Kejaksaan Tinggi. Mereka belakangan juga mempertanyakan langkah Pakualam yang telah mencairkan dana kompensasi atas lahan tersebut.

Bersamaan dengan gugatan ini, muncul gugatan intervensi dari Ahli waris Pakubuwono X dari Jakarta dari Tjakraningrat cs. Keluarga ini juga mengklaim berhak atas tanah dan merupakan ahli waris yang sah. Bahkan neneknya hidup bersama mereka dan dimakamkan di kompleks Pemakaman Imogiri.


Editor : Himas Puspito Putra