Malam 1 Suro, Warga Bantul Gelar Tradisi Kirab dan Doa Bersama

Kuntadi · Selasa, 11 September 2018 - 15:11 WIB
Malam 1 Suro, Warga Bantul Gelar Tradisi Kirab dan Doa Bersama

Warga Samas saat menggelar tradisi Jumuduling Maheso Suro setiap malam tanggal 1 Muharam. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

BANTUL, iNews.id – Masyarakat sekitar Pantai Samas yang terletak di Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, memiliki tradisi unik setiap malam pergantian Tahun Baru Islam. Jelang malam satu suro, dilaksanakan tradisi Jumuduling Maheso Suro dengan menggelar kirab, doa bersama dan larungan.

Maheso Suro yang berupa kerbau dulu dipercaya mampu mendatangkan kesejahteraan masyarakat. “Peringatan Jumuduling Maheso Suro ini rutin dilaksanakan tiap tahun pada malam satu Suro (Muharam),” kata Kepala Desa Srigading wahyu Widodo, Selasa (11/9/2018).

Dia menceritakan, dulu sejarahnya wilayah Samas dilanda paceklik. Semua lahan pertanian milik warga mati dan tidak bisa berkembang baik. Mereka yang menjadi nelayan juga tidak mampu mendapatkan tangkapan ikan. Masyarakat Panik dan tidak tahu harus berbuat apa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam kondisi tersebut, para tokoh agama dan tokoh masyarakat bersama bersama seluruh warga melakukan doa bersama. Mereka menaikan permohonan kepada Tuhan agar tanaman yang ada bisa subur dengan hasil panen melimpah untuk mencukupi kebutuhan hidup. 

Tidak lama berselang, warga dikagetkan dengan munculnya seekor lembu berwarna hitam kelam. Lembu inilah yang dikenal dengan Lembu Suro. Mereka kemudian menangkapnya beramai-ramai dan memeliharanya bersama dengan kerbau lokal milik warga.

Anehnya, setiap kerbau “tiban” melewati areal pertanian, maka lahan menjadi subur dan berkembang. Bahkan tidak ada yang rusak meski meski ukurannya cukup besar.

Seiring berjalannya waktu, kerbau ini mampu berkembang dan beranak pinak. Namun bersamaan dengan itu, kerbau yang pertama muncul hilang dan tidak ada warga yang tahu ke mana perginya. Dari situlah asal muasalm warga menggelar ritual Kirab Tuurinung Maheso Suro Setiap malam satu suro (Muharam).

“Tradisi ini sudah dilakukan warga di sini sejak tahun 1910,” ujar Wahyu.

Maheso Suro dipercaya mampu memberikan kesejahteraan di masyarakat dan sebagai lambang kemakmuran. Setiap tahun warga selalu menggelar ritual ini dengan mengusung jodang berisi nasi tumpeng, aneka buah-buahan, gunungan hasil bumi dan juga kerbau.

Kirab dimulai dari rumah tokoh masyarakat menuju ke Pantai. Setelah didoakan, aneka gunungan ini diperebutkan warga yang hadir, sedangkan kerbau replika Lembu Suro dilarung ke laut. "Setiap tahun saya selalu ikut acara ini,” ucap seorang warga setempat Suryo Sugito.


Editor : Donald Karouw