Ratusan Warga Tolak Penambangan Pasir Sungai Progo dengan Alat Berat

Kuntadi · Rabu, 12 September 2018 - 16:50 WIB
Ratusan Warga Tolak Penambangan Pasir Sungai Progo dengan Alat Berat

Warga Jati dan Bunder Desa Banaran Kulonprogo demo menolak penambangan dengan alat berat di wilayah mereka di Gedung DPRD DIY, Rabu (12/9/2018). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

YOGYAKARTA, iNews.id – Ratusan warga Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo, DIY, bersama mahasiswa berdemonstrasi menolak penambangan pasir di aliran Sungai Progo dengan alat berat di Gedung DPRD DIY, Rabu (12/9/2018). Mereka meminta agar izin penambangan dicabut dan warga diberikan kesempatan menambang secara manual.

Massa dari Dusun Jati, Desa Bunder, dan Desa Banaran yang didampingi Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pandawa datang dengan enam truk, bus, pikap, serta mobil pribadi. Mereka menggelar aksi jalan kaki dari Taman Parkir abu Bakar Ali menuju Gedung DPRD DIY di Jalan Malioboro.

“Kalau penambangan terus berlangsung, masa depan warga asli akan sengsara,” kata salah seorang warga saat berorasi, Endro.

Warga mendatangi DPRD DIY untuk meminta difasilitasi oleh para wakil rakyat sehingga kehidupan mereka  tetap bisa aman dan nyaman. Aktivitas penambangan dengan alat berat telah menjadikan infrastruktur jalan rusak. Banyak pohon yang mengering karena ir tanah sudah turun. Sumur warga juga tidak lagi mengeluarkan air.

Penambangan dengan alat berat juga telah merampas kehidupan warga. Selama ini, warga mengandalkan hidup dari menambang manual di lokasi ini. Namun dengan izin penambangan, aktivitas itu hanya bisa dilakukan oleh investor dengan alat berat. “Indonesia telah 73 tahun merdeka, tapi kami belum sejahtera. Kami masih tertindas,” ujarnya.

Warga yang lain, Arwan mengatakan, Sungai Progo telah menjadi sumber penghidupan warga. Namun, warga saat ini justru merasa dizalimi. Sungai ini telah dikapling oleh pemegang izin dengan alat berat. “Berikan kami wilayah untuk penambangan rakyat, jangan diberikan kepada pengusaha,” ucapnya.

Arwan mengatakan, sejak kecil dirinya sudah mencari pasir di sungai. Namun, usaha itu telah tergusur dengan adanya izin dan penambangan dengan alat berat. Penambangan itu telah menyebabkan material dalam jumlah besar dibawa keluar. “Kami tidak ingin saat banjir wilayah kami terendam,” katanya.

Sementara Ketua LKBH Pandawa Ali Hamsyah Nasikin  mengatakan, kedatangan warga untuk berjuang atas adanya perampasan hak-hak mereka. Mereka menuntut keadilan untuk rakyat kecil. “Kami minta Dewan membuat pansus dan mengaji izin penambangan alat berat di sepanjang Sungai Progo,” tuturnya. 

Setelah beberapa saat melakukan orasi, akhirnya anggota Komisi C DPRD DIY, Chang Wendryanto menemui massa aksi. Dia siap untuk berdialog dengan warga. “Minggu depan kami persilakan perwakilan warga ke sini untuk membahas masalah ini,” ujar Chang.


Editor : Maria Christina