Harga Air Tembus Rp350.000, Warga Gunungkidul Cari Air Pakai Toples

Kismaya Wibowo ยท Kamis, 13 September 2018 - 19:37 WIB
Harga Air Tembus Rp350.000, Warga Gunungkidul Cari Air Pakai Toples

Warga mengambil air dari bekas sumur bor dengan stoples kecil di Desa Mertelu, Gunungkidul, DIY. (Foto: iNews/Kismaya Wibowo)

GUNUNGKIDUL, iNews.id – Kekeringan yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DIY, memaksa warga untuk mencari air bersih dengan toples di bekas sumur bor. Sementara harga air bersih yang sudah mencapai Rp350.000 dari Rp150.000 per tangki dirasa sangat memberatkan warga.

Salah satu warga Dusun Baturturu, Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Pariman mengatakan, krisis air bersih di daerah mereka memaksa warga memutar otak untuk bisa menyediakan air guna keperluan sehari-hari. Apalagi harga air bersih per tangki dinilai sangat memberatkan warga. Selain terlalu mahal, air tersebut juga hanya mampu bertahan untuk pemakaian dua hingga tiga minggu saja.

Untuk menekan pengeluaran, warga di desa tersebut terpaksa memanfaatkan tempat bekas penggalian sumur bor yang tidak dipakai lagi. Meskipun debit air rendah, warga masih bisa mendapatkan air bersih dari sana.

BACA JUGA: Kemarau Panjang, Warga di Gunungkidul Gunakan Air Sungai Berlumut

Memanfaatkan air bekas sumur bor bukanlah hal mudah. Dibutuhkan waktu hingga 30 menit untuk dapat mengisi 1 jeriken air bersih berkapasitas 10 liter. Pasalnya, di tempat tersebut hanya terdapat sebuah lubang dari pipa selebar 15 sentimeter. Karena itu, diperlukan toples yang terikat dengan sebuah tali serta sebuah bambu sepanjang 1 meter untuk bisa memindahkan air.

“Air yang kami dapatkan hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan air minum dan memasak. Untuk keperluan mandi dan juga mencuci, kami terpaksa mencari ke sumber air lain yang lebih jauh,” papar Pariman, Kamis (13/9/2018).

Sementara Kepala Desa Mertelu Tugiman mengakui kekeringan selalu terjadi setiap tahun di desanya. Seluruh pedukuhan di sana tidak ada yang dialiri air dari PDAM. Kondisi itu diperparah dengan bak penampungan air hujan milik warga yang sudah mengering sejak empat bulan lalu akibat musim kemarau.

Pemerintah desa sudah melakukan upaya untuk menangani masalah tersebut. Salah satunya dengan menyediakan dana khusus untuk memberikan bantuan air bersih ataupun mencari sumber air untuk membuat sumur bor. Upaya itu gagal karena debit airnya terlalu kecil. “Namun, warga memanfaatkan bekas sumur bor itu. Tapi, warga harus pakai stoples karena tempatnya kecil dan debit airnya juga kecil,” kata Tugiman.

Tugiman mengatakan, warga berharap agar pemerintah bisa menyediakan saluran PDAM di desa mereka. Sarana publik tersebut sangat penting dan mendesak agar mereka tidak perlu lagi merasakan krisis air bersih setiap tahun.


Editor : Maria Christina