Radar Tsunami di Pesisir Selatan Bantul Bisa Jangkau Hingga 200 Km

Kuntadi ยท Jumat, 14 September 2018 - 00:30 WIB
Radar Tsunami di Pesisir Selatan Bantul Bisa Jangkau Hingga 200 Km

Gelombang tinggi merokaporandakan bangunan di sepanjang pantai di Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Dok.iNews.id)

BANTUL, iNews.id - Kawasan pantai selatan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan dipasangi radar untuk mendeteksi tsunami. Radar yang dipasang diperkirakan bisa menjangkau hingga berjarak 200 kilometer (km). Keberadaan gumuk pasir juga harus dipertahankan.

Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Aris Marfai mengatakan radar ini akan dipasang untuk mendeteksi ancaman bencana tsunami dan gelombang besar yang bisa merusak kawasan pesisir. UGM saat ini telah menjalin dengan badan cuaca di Jepang. "Radar itu untuk mendeteksi ancaman tsunami," kata Aris seusai bertemu dengan Bupati Bantul bersama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) Parangtritis Geomaritime Science Park terkait rencana pengembangan dan pelestarian gumuk pasir pantai selatan Bantul, Kamis (13/9/2018).

Radar yang akan dipasang memiliki jangkauan yang cukup jauh. Setidaknya bisa menjangkau hingga 200 kilometer. Lokasi pemasangan akan dikoordinasikan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul. "Tinggal teknis pemasangan saja. Sedangkan dashboard monitoring akan dipasang di Museum Parangtritis Geomaritime," papar Aris.

BACA JUGA:

Gelombang 6 Meter Hantam Pantai Selatan Jawa, Bangunan Porak-Poranda

Tsunami Kecil Terjang Lombok, Sutopo: Ini Masih Gelombang Pertama

UGM juga mengharapkan adanya lorong angin di sepanjang Pantai Parangtritis. Lorong ini diperlukan untuk pembentukan gundukan di kawasan gumuk pasir secara alami.

Menurut Aris, Fakultas Geografi UGM telah melakukan riset secara detail tentang pergerakan pasir di gumuk. Hasilnya pergerakan pasir itu ada yang disebut dengan lorong angin.

Lorong inilah yang harus dipertahankan agar angin dari selatan bisa masuk. Secara alami angin ini akan membawa material pasir yang membentuk gumuk pasir secara alami. "Gumuk yang ada jangan dirusak, keindahan alaminya bisa untuk swafoto," ujarnya.

Aris mengatakan, agar gumuk pasir secara alami bisa terbentuk, aliran angin harus diberikan ruang. Jangan semua garis pantai dipenuhi sengan bangunan warung.

Gumuk pasir di kawasan pesisir masih hidup dari sifat alaminya. Banyak pantai yang sudah rusak dan mati. Salah satu yang tersisa di pantai selatan Bantul yang harus dilestarikan. "Sudah tidak bisa kita temukan gumuk pasir aktif lagi di Indonesia, sehingga ini satu-satunya yang kita pelihara," katanya.

UGM terus mendukung pengembangan dan pelestarian gumuk pasir oleh institusi pemerintah, dan sebagai kalangan akademisi. UGM udah melakukan kajian dan studi guna menyusun peta zonasi. Apalagi saat ini ada museum Gumuk pasir seluas dua hektar dengan hamparan humuk 114 hektare. "Bagaimana ini dikelola agar lestari, agar gumuk pasir tidak mati," ucapnya.


Editor : Kastolani Marzuki