3 Isu Besar Terpa Bandara YIA Kulonprogo, Salah Satunya Gempa Megathrust

Kuntadi ยท Selasa, 13 Agustus 2019 - 21:01 WIB
3 Isu Besar Terpa Bandara YIA Kulonprogo, Salah Satunya Gempa Megathrust

Anggota DPD melakukan rapat kerja dengan pengelola Bandara YIA di Kantor Perwakilan DPD Yogyakarta. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

YOGYAKARTA, iNews.id - General Manager Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Agus Pandu Purnama mengungkapkan ada tiga isu besar yang dihadapi Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulonprogo, DIY.

Dia menyebutkan, isu pertama adalah gempa megathrust dan potensi tsunami yang bisa mengancam bandara. Isu ini sebenarnya sudah diselesaikan, jauh hari sebelum bandara dibangun.

Solusinya bandara dibangun dengan ketinggian mencapai 15 meter dengan proyeksi tsunami terbesar dengan ketinggian 12 meter. Struktur bangunan juga didesain mampu menahan gempa dengan besaran Magnitudo 8,8.

Seluruh wilayah di Indonesia memang rawan dengan gempa dan tsunami. Namun hal ini sudah diantisipasi. Bahkan saat ini juga sedang dibangun green belt atau sabuk hijau sepanjang 5 kilometer dengan Pemkab Kulonprogo. Bangunan yang ada juga bisa diakses masyarakat ketika ada bencana.

“Ada dua pintu di barat dan timur yang akan terbuka dan bisa diakses masyarakat ketika ada tsunami dengan kapasitas lebih dari 10.000 jiwa,” kata Pandu dalam Raker DPD RI denga Pemda dan Instansi Terkai, menindaklanjuti aspirasi masyarakat tentang infrastruktur, di Kantor DPD Perwakilan DIY, di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta, Selasa (13/8/2019).

BACA JUGA:

Pakar Tsunami Sebut Gempa Bermagnitudo 8,8 Berpotensi Terjadi di Selatan Jawa

Bandara Baru Yogya Didesain Tahan Gempa 8,8 SR dan Ramah Tsunami

Permasalahan kedua terkait aksesibilitas dari pusat Kota Yogyakarta. Permasalahan ini sudah mulai terselesaikan dengan dioperasionalkannya kereta bandara ke Stasiun Wojo. Selanjutnya akan ada sutle bus yang akan membawa penumpang ke bandara. Begitu juga akses jalan arteri dengan pemkab juga terus diperlebar. “Ke depan akan ada stasiun bandara yang langsung di terminal,” ucap Pandu.

Sedangkan isu ketiga, kata dia, pada Oktober akan ada 65 penerbangan dari bandara Adisutjipto yang akan digeser ke YIA. Hal ini akan menjadikan kepadatan penerbangan di YIA di kemudian hari dengan taret penumpang di atas 10.000 orang.

Bahkan sejumlah maskapai penerbangan asing juga tertarik untuk membuka rute di YIA. Hanya butuh adanya hotel berbintang minimal bintang tiga dan rumah sakit internasional. “Anak perusahaan kita sedang membangun hotel tiga dengan kapasitas 70 kamar, untuk menampung air crew dan penumpang,” ujarnya.

Pandu mengatakan, saat ini progres pembangunan bandara YIA sudah mencapai 70 persen dan diharapkan pada Oktober 2019 nanti sudah selesai. “Saat ini kita sedang ngebut untuk menyelesaikan target Oktober full beroperasi,” katanya. 

Anggota DPD asal DIY, Afnan Hadikusumo mengatakan, DIY menjadi pusat pariwisata setelah Bali. Karena itu, DPD berkonsentrasi menyiapkan daya dukung pariwisata. Termasuk infrastruktur fisik pendukung, seperti bandara. “Masyarakat kita butuh akses transportasi yang nyaman. Ini yang akan kita perjuangkan,” kata Afnan.

Akses jalan tol yang menghubungkan dengan Solo dan Bawen, Kabupaten Semarang akan menjadi solusi bagi masuknya orang ke DIY. Hal ini harus disiapkan agar wisatawan merasa lebih nyaman. Begitu juga dengan askes ke bandara YIA yang baru, harus diintegrasikan dengan jalur kereta dan jalan arteri.

 


Editor : Kastolani Marzuki