45.000 Lansia di DIY Telantar, Baru 214 yang Tertampung

Kuntadi ยท Kamis, 01 November 2018 - 17:22 WIB
45.000 Lansia di DIY Telantar, Baru 214 yang Tertampung

Para mahasiswa asing berinteraksi dengan lansia yang ada di Balai Pelayanan Sosial Tresna Wedha, Pakem, Sleman, Kamis (1/11/2018). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

SLEMAN, iNews.id – Jumlah lansia telantar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih sangat tinggi. Balai Pelayanan Sosial Tresna Wredha Abiyoso mencatat, Setidaknya lebih dari 45.000 lansia di wilayah tersebut hidup telantar.   

Kepala Balai Pelayanan Sosial Tresna Wredha Abiyoso, Fatchan, mengatakan pemerintah baru bisa menampung 214 lansia di dua Balai perlindungan Sosial. “Setiap tahun hanya 214 lansia yang kami tampung, meski ada lebih dari 45.000 lansia telantar di DIY,” kata Fatchan, Saat menerima mahasiswa asing dalam Summer Course bekerja sama dengan Universitas Gadjah mada (UGM), di Balai Tresna Wedha Abiyoso, Pakem, Sleman, Kamis (01/11/2018).

Selain menerima lansia telantar, balai ini juga menerima lansia dengan pelayanan khusus. Saat ini ada 28 orang yang dititipkan dengan membayar biaya bulanan. Selebihnya ada 186 peserta regular yang tidak ditarik biaya.  

Summer Course tersebut diikuti puluhan mahasiswa dari Malaysia, Belanda, Yunani, Jepang, Thailand, Singapura dan juga Taiwan. Selama dua pekan mulai 29 Oktober sampai 16 November nanti, mereka berkesempatan untuk mempelajari kegiatan pelayanan kesehatan kelompok lansia di Indonesia. Salah satu di balai pelayanan sosial lansia Tresna Wredha Abiyoso, Pakem, Sleman.

Summer course ini diikuti 23 mahasiswa asing dan 34 mahasiswa UGM. Mereka berkesempatan untuk berdialog langsung dengan penghuni lansia yang umumnya berumur di atas 60 tahun.

Salah seorang peserta May Pawena mengaku senang dan tertarik ikut kegiatan ini. Temanya berkaitan dengan pelayanan kesehatan dan perawatan lansia sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuninya di kampus. “Saya jadi tahu banyak perlindungan komunitas lansia,” kata mahasiswa prodi Keperawatan dari Mahidol University, Thailand ini.  

Hal senada juga disampaikan oleh Julia De Qerrol, mahasiswi dari Universitas Vray Belanda. Dia mengaku senang dan gembira dapat bekunjung ke panti jompo karena di Belanda ia belum pernah melakukan kegiatan semacam ini. “Baru pertama kali ini melihat mereka beraktivitas. Ini sangat menyenangkan,” katanya.

Selain berdialog dengan warga lansia, Julia juga ikut serta dalam permainan di mana mahasiswa UGM mengajak warga panti ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan.

Salah satu lansia, Parman (65) mengaku sudah lima tahun menjadi penghuni panti jompo. Dia juga senang dan gembira dikunjungi oleh para mahasiswa. Kunjungan ini menjadi bagian dari usaha memotivasi dirinya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik selama berada di panti.


Editor : Himas Puspito Putra