BPBD Sebut 16 Kecamatan di DIY Rawan Longsor Selama Musim Penghujan

Antara ยท Rabu, 05 Desember 2018 - 11:17 WIB
BPBD Sebut 16 Kecamatan di DIY Rawan Longsor Selama Musim Penghujan

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

YOGYAKARTA, iNews.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebut sebanyak 16 kecamatan di daerah tersebut memiliki risiko tinggi terjadi longsor selama musim hujan. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Manajer Pusat Pengendali dan Operasi BPBD DIY Danang Samsu Rizal mengatakan, ke-16 kecamatan tersebut tersebar di Kabupaten Bantul, Gunung Kidul, Sleman, dan Kulonprogo.

"Risiko tinggi itu bisa disebabkan jenis tanah serta kemiringan wilayah karena tekanan gravitasi. Risiko juga berkaitan dengan kesiapan masyarakatnya," kata dia, Rabu (5/12/2018).

Berdasarkan pemetaan BPBD DIY, 16 kecamatan yang rawan terjadi longsor yakni Kecamatan Dlingo, Imogiri, Pleret, serta Piyungan (Bantul), Patuk Gedang Sari, Ngawen, Nglipar, Semin, Ponjong (Gunungkidul), Kokap, Pengasih, Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang (Kulonprogo), dan Prambanan (Sleman).

BACA JUGA: Kulonprogo Terapkan Larangan Pajang Produk Rokok

Meski ada beberapa tanda yang tidak bisa dideteksi oleh masyarakat awam, dia menegaskan ada beberapa gejala yang dapat diwaspadai masyarakat sebelum terjadinya longsor. Semisal, retakan tanah di lereng atau pinggiran sungai, sumber mata air baru, serta suara gemuruh.

"Apabila menemukan tanda-tanda itu, masyarakat bisa melaporkan kepada tim reaksi cepat (TRC) atau relawan setempat," ucapnya.

Danang mengungkapkan, penentuan 16 kecamatan juga mengacu zona kawasan berpotensi gerakan tanah di DIY yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2018.

Berdasarkan data PVMBG, tercatat 64 kecamatan di DIY terindentifikasi memiliki potensi gerakan tanah, mulai level menengah dan tinggi.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogykarta Djoko Budiyono menuturkan, hujan diperkirakan mulai merata di lima kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Desember 2018.

Disampaikannya, hujan bulanan yang terjadi pada Desember sebagian besar wilayah DIY memiliki rata-rata curah hujan berkisar 301-500 milimeter (mm) per bulan. Jumlah itu masuk kategori tinggi. Curah hujan itu mengalami peningkatan jika dibandingkan November yang rata-rata berkisar 100-200 mm per bulan.

"Seiring dengan penguatan musim hujan, maka dari segi intensitas dan frekuensi terjadinya hujan akan mengalami peningkatan dari November ke Desember. Kemudian akan meningkat lagi di Januari 2019," kata Djoko.


Editor : Donald Karouw